Rencana yang tertunda

Sejak awal tahun, saya dan si bungsu sudah menghitung dan merencanakan, agar tahun 2018 ini bisa menengok si bungsu dan suaminya ke Jepang. Terakhir kali saya ke Jepang lima tahun yang lalu, saat itu si bungsu sedang ambil program PhD dan belum menikah.

Kali ini, si bungsu ingin ayahnya ikut serta, apalagi dia sudah lama tinggal di Jepang. Suami setuju, jadi kami mulai merencanakan kapan waktu yang tepat ke Toyohashi. Ya, si bungsu tinggal di kota kecil, sehingga perjalanan cukup jauh bagi orang yang sudah berusia kepala “enam”. Waktu yang tepat adalah bulan September, si bungsu dan suaminya tak terlalu sibuk sehingga kedatangan ayah ibu tak terlalu merepotkan. Sekarang adalah mengatur perjalanan dan itenerary selama di Jepang. Karena saya dan suami hanya ingin ketemu si bungsu, maka itinerary dibuat fleksibel, semua tergantung situasi dan kondisi kesehatan dan cuaca.

Bersama suami

Jadi, akhirnya kami memilih penerbangan menggunakan Cathay Pacific, yang transit di Hongkong selama 4 (empat) jam sehingga punya waktu melihat-lihat bandara Hongkong. Tujuan utama ke Nagoya, kota terdekat dari tempat tinggal si bungsu, walau masih perlu ganti tiga kali naik kereta api meitetsu line. Setelah tiket pesawat pulang pergi yang dipesan oleh si bungsu beres, saya dan suami

Untuk mengurus visa ke Jepang saat ini tidak harus ke Kedutaan Jepang di jalan Thamrin, namun bisa melalui Pusat Aplikasi Visa Jepang di Lotte Shopping Avenue di jalan Satrio. Karena paspor saya sudah e passport, saya disarankan untuk menggunakan visa waiver, dimana saya bisa setiap kali datang ke Jepang tanpa mengurus visa lagi, asal setiap kedatangan maksimum 15 hari.

Bersama suami

Visa waiver ini berlaku 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang. Sedang suami, mendapat visa biasa karena belum e passport, namun visanya berlaku untuk 3 (tiga) bulan. Utuk mendapatkan e passport tak semua kantor imigrasi bisa mengeluarkan e passport, suami mengurus perpanjangan paspornya di Bandung.

Ternyata, suami baru mengaku bahwa disarankan dokter untuk operasi hernia. Hadeuh bagaimana ini…namun yang penting adalah kontrol ke dokter dulu untuk mengetahui secara tepat apa yang sebaiknya dilakukan. Dan oleh dokter disarankan untuk dioperasi dan berisiko untuk melakukan perjalanan jauh. Jadi akhirnya diputuskan saya sendirian menengok si bungsu ke Jepang, semoga sehat dan punya rejeki  untuk pergi ke Jepang bersama suami.

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Rencana yang tertunda

  1. Tertunda ya Ibu. Semoga setelah fase pemulihan Bapak, Ibu berdua tindak ke Jepang lagi dalam suasana ceria. Salam hangat ya Ibu.
    (oot Ibu ganti tampilan malai gandum ya menggantikan Ibu Enny berkuda)

    Semoga setelah sehat ada kesempatan menengok si bungsu lagi…mesti diatur jadual nya agar yang di sana juga siap menerima kami….tampilan bikinan si bungsu mbak Prih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s