Oleh: edratna | Oktober 17, 2008

Uh…uh …tenyata harus belajar ilmu Hukum juga

Saat ini putaran job training Rita sampai pada bagian administrasi perkreditan. Untuk lebih memahami, Rita juga berkunjung ke notaris rekanan Kantor Cabang tersebut. Pada umumnya untuk kredit yang masih kecil, bentuk perikatannya masih sederhana, dan hal ini berbeda jika kredit telah besar, dan usaha juga makin kompleks. Bila usaha makin kompleks, maka perjanjian kredit dipersyaratkan untuk dibuat secara akte notariil.

Suatu saat, Rita diajak karyawan kantor untuk melihat penandatanganan perjanjian pinjaman ritel. Proses analisis pinjaman dilakukan oleh Account Officer (AO), yang sebelumnya telah melihat ke lokasi usaha, menilai berbagai aspek yang harus dianalisis, seperti : a) Character, b) Capacity, c) Capital, d) Condition, dan d) Collateral. Jika AO telah selesai menganalisis, maka AO yang lain secara independen akan melakukan analisis kelayakan berdasar risikonya, apakah perusahaan tersebut mempunyai risiko rendah, risiko intermediate, risiko tinggi dan sebagainya, yang kemudian tercermin pada nilai rating nya. Nilai rating ini akan menentukan besarnya suku bunga yang diberikan. Apabila penilaian didasarkan atas risiko telah selesai, diteruskan kepada Marketing Lending Officer (atasan AO) untuk diadakan pengecekan dan apakah perlu tambahan persyaratan, atau malah perlu dilakukan penilaian ulang karena ada hal-hal yang masih perlu dimitigasi. Jika proses ini selesai, akan diteruskan kepada Pimpinan Cabang untuk mendapatkan keputusan, jika besar pinjaman merupakan wewenang keputusan Pimpinan Cabang.

Setelah mendapat keputusan dari Pimpinan Cabang, maka akan diberikan pada seksi administrasi kredit, Disini seksi administrasi kredit akan memberikan Pemberitahuan Surat Keputusan (Offering Letter atau disingkat OL), beserta syarat-syaratnya, dan bila nasabah menerima tanpa keberatan akan menandatangani pada form yang telah tersedia. Bila ada persyaratan yang dirasa memberatkan, nasabah akan memberikan persetujuan dengan syarat, dan dalam hal ini akan diadakan kembali pertemuan antara nasabah dengan pihak Bank, untuk membicarakan persyaratan yang belum mencapai kata sepakat tersebut. Bila semuanya sudah beres, maka dalam persyaratan tadi telah dinyatakan bagaimana bentuk perjanjian yang akan diadakan.

Rita mempelajari, secara prinsip ada 3 (tiga) jenis bentuk perjanjian:
1. Di bawah tangan
2. Legalisasi atau waarmeking
3. Notariil
Apabila perjanjian di bawah tangan, maka kedua belah pihak mengadakan perjanjian sesuai yang disepakati. Jika suatu ketika timbul permasalahan, maka keduanya harus membuktikan di pengadilan, dan diputus oleh pengadilan. Untuk perjanjian yang dilegalisasi notaris atau PPAT, maka notaris hanya bertanggung jawab atas kepastian tanda tangan. Sedangkan jika waarmeking, maka notaris menjamin kepastian tanggalnya. Yang paling kuat apabila perjanjian dibuat secara akte notariil. Bank hanya memberikan kutipan OL, yang nanti perjanjian secara notariil akan dibuat oleh notaris. Apabila perjanjian dibuat secara akte notariil, maka apabila berperkara, penggugat yang harus membuktikan keabsahan akte tersebut.

Pimpinan Cabang juga menjelaskan, walaupun notaris telah merupakan rekanan Bank, segala sesuatu bisa terjadi, jadi Rita harus mempelajari draf akte notariil tersebut, apakah komparisi sudah sesuai, dan apakah persyaratan yang dituangkan dalam draft akte notariil tersebut telah sesuai dengan OL nya. Untuk meyakinkan bahwa para pihak yang tercantum dalam komparisi tadi telah sesuai, Rita harus melihat apa bentuk usaha nasabah tersebut, dan apakah yang berhak menandatangani akte tersebut telah sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tanggal perusahaan. Untuk memahami ini, Rita juga harus mempelajari jenis Badan Hukum di Indonesia, yang antara lain:
a) Badan Hukum Publik (Negara), b) Perseroan Terbatas, c) Koperasi, d) Yayasan, e) BUMN (Persero, Perum, Perjan), f) Dana Pensiun, dan g)`Perkumpulan Umum. Bagaimana bila bukan Badan Hukum, seperti halnya Persekutuan Perdata (Maatschaap), Firma, dan Perseroan Komanditer atau CV (Commanditer Venootschaps)? Semuanya memang harus dipelajari oleh Rita.

Selain itu Rita harus mempelajari tentang Perikatan, bagaimana azas perjanjian, surat kuasa dan bentuknya, serta apa akibatnya bila tidak memenuhi persyaratan. Bila tidak memenuhi perikatan, maka akibatnya adalah: a) Jika tidak memenuhi syarat subyektif, dapat dibatalkan, b) Tidak memenuhi syarat obyektif, batal demi hukum.

Dan yang penting apakah perjanjian itu sah? Perjanjian itu sah apabila: a) ada kesepakatan, b) kecakapan, c) Suatu hal tertentu dan d) Suatu sebab yang halal. Dalam kondisi seperti ini, Rita berterima kasih karena Pimpinan Cabang banyak membantu, dan meminjamkan buku-buku Hukum yang beliau miliki. Beliau juga menyarankan agar Rita rajin membaca berbagai dokumen (barkas), untuk mempelajari mengapa suatu pinjaman diberikan, mengapa kadang besar pinjaman tidak sebesar permintaan debitur, dan bagaimana bentuk perjanjiannya.

Rita juga harus mengecek keabsahan dokumen kepemilikan (sertifikat tanah/bangunan) nasabah ke kantor Badan Pertanahan Negara (BPN), melihat riwayat tanah, dan bagaimana cara menilai suatu agunan atau jaminan dilapangan. Kesalahan dalam pengecekan dapat berakibat fatal, karena akan membuat Bank inferior.

Suatu ketika, saya harus beli buku-buku ini sendiri, janji Rita pada diri sendiri. Untuk menjadi seorang AO, setiap hari harus memahami hukum agar tidak salah melangkah, karena setiap kesalahan bisa berakibat pada finansial, serta berakibat hukum (perdata atau pidana).

Iklan

Responses

  1. Fiksinya bukan fiksi yang ‘kosong’ ya, Bu..
    Fiksi yang membuat kita bisa belajar sesuatu…

    C’mon..
    keep on writing Bu…
    Lala tunggu ya!

    Jeunglala,
    Fiksinya benar nggak ya caranya…entahlah mudah2an bermanfaat….

  2. fiksinya kayak pengalaman Ikal..
    Mesti ini curhat “gaya Baru” Bu Enny.

    😛

    Mas Kopdang,
    hehehe….terserah mas Kopdang aja…

  3. (ini cuma dugaan yah bu…)
    Jangan-jangan ibu sudah bikin silabus untuk beberapa posting berikutnya yah…? 😉

    asyik dapet ilmu gratis…!
    terima kasih…, terima kasih…, terima kasih.

    Gbaiquni
    ,
    Betapa inginnya saya memposting silabus yang bisa dibuat sederhana dan ringan……tapi ntar saya coba ya….Kayaknya enakan menjelaskan di kelas deh

  4. kalau saya saat ini harus membeli buku-buku akuntansi. tidak pernah mengenyam pendidikan itu tapi dunia kerja menuntut saya untuk bisa akuntansi

    Easy,
    Kehidupan juga menuntut itu kan? Bukankan kita juga harus mengelola keuangan, minimal keuangan rumah tangga, dan menginvestasikan kelebihan uang kita secara tepat?
    Juga masalah hukum, sebagai negara hukum, minimal kita harus memahami KUH Pidana dan KUH Perdata, serta peraturan lain yang akan terkait kehidupan kita sehari-hari, mial: Peraturan lalu lintas, peraturan perpajakan, peraturan yang terkait dengan internet (uu ITEE) dsb nya.

  5. Bunda ini pintar sekali..

    bangga aku 🙂

    hihihi

    yessymuchtar,
    Jangan begitu…nanti kepalaku membesar….

  6. saya senag jika saya banyak tahu
    dan caranya adalah dengan belajar
    termasuk pada guruku ini

    Kangharis,
    Saya bersyukur jika isi postingan ini bermanfaat bagi teman-teman

  7. Waduh, fiksinya iya, tapi ringannya engga he3x.

    Edel,
    Masih berat ya? Padahal sudah dibuat dan dikoreksi ber ulang-ulang agar terasa ringan…..

  8. ….’Ditulis dalam Ringan & Fiksi’

    Kok menurut saya berat ya, Bu. Hehe
    Lha wong, gak mudheng blas.

    Irna,
    Wahh iya ya…next time akan buat lebih ringan, tapi tetap ada unsur pembelajarannya….
    Intinya, Rita harus belajar hukum, agar tak terjadi kekeliruan dalam membuat perjanjian….karena kekeliruan bisa berakibat finansial dan akibat hukum.

  9. itu fiksi??? (O.o) Masaoloh….

    Rita.. sungguh berat yang harus kau jalani, sobat 😀
    ternyata saya harus belajar Hukum juga 😥 *ikutan Rita mode : on*

    Darnia
    ,
    Tidak berat kok, dan hukum itu menarik.
    Gara-gara saya setiap kali kalau mengobrol selalu merefer pada aturan hukumnya, si sulung menjadi terbiasa berdiskusi dengan dasar hukum atau peraturan apa yang dipake. Dan saat kuliah di Ilmu Komputer UI, dia juga ambil mata kuliah hukum telematika…dan ternyata dia senang sekali, Suami juga ketularan, jadi dirumahku banyak buku tentang hukum….karena negara kita negara hukum, jadi setiap langkah sesuai peraturan dan per undang-undangan yang ada.

    Sebagai calon Account Officer, Rita harus mempelajari hukum, selain ilmu ekonomi, juga harus memahami psikologi. Setiap langkah mengandung risiko, karena ada kemungkinan terjadi default, wan prestasi, jadi selalu harus berpikir berdasar risiko, antara lain juga risiko hukum

  10. sebenarnya tak hanya orang perbankan aja yang musti belajar hukum, bu. nasabahnya juga. dan secara umum, masyarakat semua pun harus belajar hukum. segala tindak-tanduk masyarakat kan selalu berdampak hukum. hwehe…

    (^_^)v

    Farijs van Java,
    Betul sekali…setiap hari kita bisa melakukan sesuatu yang berdampak pada hukum, dan memungkinkan timbulnya gugatan. Jika berhadapan terus dengan konsumen bisa digugat jika konsumen kecewa, dan mereka dilindungi hukum berdasar uu konsumen. Jika ada proyek kerjasama, kita harus membuat perjanjian, dan selalu mencantumkan jika terjadi perselisihan maka akan memilih wilayah hukum dimana, pakai hukum Indonesia atau bisa juga hukum negara lain, jika kontrak kerjasamanya dengan warganegara atau badan usaha yang berdomisisli di negara lain.

  11. wah, saya musti belajar banyak lagi juga bu. Akuntansi, hukum, lalala, padahal di kampus belajar, masuk kuping kiri keluar kuping kanan. hooo

    Ikan kering,
    Memang banyak hal yang harus dipelajari, tapi prinsipnya hal-hal yang terkait dengan bidang kita sehari-hari….

  12. idealnya semua orang wajib melek hukum

    Aprikot,
    Yup betul…….agar kita tidak salah langkah….

  13. agaknya persoalan hukum tak hanya perlu dipelajari orang2 yang kebetukan bergerak di bidang manajemen, bu, tapi juga siapa saja yang kebetulan sering berurusan dengan masalah2 publik. untuk urusan pembuatan surat perjanjian, misalnya, kalau kita tak tahu hukum, bisa2 surat perjanjian itu menjadi bumerang buat kita. *maaf kok jadi sok tahu saya, bu enny, hehehe *

    Sawali Tuhusetya
    ,
    Betul pak, seperti kita menandatangani kredit untuk pinjam rumah, kita harus membaca pasal demi pasal yang diperjanjikan, agar kita tak terjebak, yang berakibat merugikan kita dikemudian hari.
    Juga membeli polis asuransi, jangan hanya percaya pada petugas marketingnya (dia kan ada target untuk pemasaran)…tapi tetap dibaca aturan dan persyaratannya.

  14. Ternyata kita memang harus banyak belajar ya Bu. Tak cuma di bangku sekolah, tapi juga ketika hal itu berkaitan dengan pekerjaan bahkan dengan kehidupan kita sendiri. Belajar tak akan ada habisnya.

    Mufti AM,
    Menurut saya, setelah lulus dari bangku sekolah, barulah bener-bener belajar dalam kehidupan nyata. Dan ini tak pernah selesai, setiap langkah, kita harus yakin mengapa melakukan langkah ini, apa pro’s dan con’s nya, apa akibatnya jika kita tak melakukan langkah ini.
    Dan ternyata kita semakin bersnggungan dengan bidang ilmu lainnya, walau memang ada yang dipelajari secara mendalam, ada yang tahu garis besarnya saja.

  15. Ga nyangka menjadi AO belajarnya macem2…

    Waktu pendidikan dulu kami yg staf IT ga ada kelas kepribadian tp yg staf umum (bakal AO) ada kelas khusus, malah yg mengajar Mien Uno. Saya dan tmn2 sempat berpikir, wah keren banget sampe ada kelas kepribadian gini. Ternyata setelah baca2 tulisan ibu menjadi AO emang mesti belajar banyak… ya belajar kepribadian… belajar hukum… belajar sosiologi jg mungkin…

    Pimbem,
    Karena bersinggungan terus dengan klien, AO memang harus menguasai bidang ilmu lainnya, seperti ilmu hukum. Walau sebetulnya kita bisa belajar dari teman-teman Divisi Hukum, atau mengajak mereka, tapi toh kita sendiri harus memahami, dan kadang malah bisa memberi masukan bagi teman dari bidang hukum. AO juga terlatih mengenal karakter orang, memahami psikologi karena akan lebih memudahkan dalam mencari pasar, seperti apa kira-kira klien ini tipenya..dsb nya. Memang asyik, menantang, tak ada hari yang sama, tapi risiko jika terjadi kesalahan juga sangat tinggi…jadi jabatan ini sebetulnya tak membolehkan adanya kesalahan. Makanya ada built in control, check re check, sistim four eyes principles, dll.

  16. wah bisa jadi novel yang berilmu nih… patut dibaca yang profesinya di perbankan 🙂

    Arul,
    Maksudnya memang kesana…mudah2an bermanfaat….

  17. wes…wes…bener mbak…apalagi seperti saya,bola bali saba/datang pergi ke Bank…buat cari utangan…kalo sudah harus mempelajari perjanjian,akte ini itu…MOU…walaaah…..saya harus minta tolong CS saya yang lulusan Fak Hukum UGM…Jebulane kudu sinau…lha kalau lihat peraturan perundangan,dlll…bukunya tebal tebal….sudah illfeel dulu…Oalah…dsar malas nih saya.

    Dyah Suminar
    ,
    Walau udah punya CS lulusan Fak Hukum UGM, sebaiknya ibu ikut baca MOU nya dan baru ditanda tangani, jika telah memahami. Tak perlu malu bu, justru nasabah yang cerewet adalah nasabah yang baik, karena banyak bertanya, sehingga saat dia tanda tangan, dia benar-benar memahami apa yang ditandatanganinya, dibaca betul per pasalnya…akibatnya dia tahu betul risiko yang ada, dan akan bertanggung jawab sesuai perjanjian yang telah disepakati tsb. Saya juga super cerewet untuk urusan tanda tangan…baru mau tanda tangan jika benar-benar telah memahami apa yang tertulis disitu.
    Belajar ilmu hukum jika menggunakan logika sangat menyenangkan….
    Supaya nggak pusing, baca dulu draft perjanjian (MOU), terus baru dilihat referensi yang terkait dengan pasal pasal perjanjian tersebut…ini akan memudahkan.

  18. Ceritanya sudah mulai “berat” (buat saya yg nggak ngerti soal keuangan dan hukum) … hehehe. Tapi background cerita ok kok Bu, jadi ada muatan pengetahuan buat pembaca.

    Oemar Bakrie,
    Mulai berat ya pak, berarti saya harus menyisipkan kalimat agar lebih ringan, dan tak perlu dipaksa selesai dalam satu artikel….

  19. wah bu saya aja yg sarjana hukum cuma tertarik di bidang hukum pidana aja walaupun jurusan sy praktisi hukum (pengacara)..coz udah pasti ada di dalam KUHP..sy paling bete bgt masalah2 perdata, apalagi ekonomi…ga mudeng bgt bu…asal ibu tau aja dulu ujian akhir hukum perkawinan saya menguasai bgt bu, mengerjakan soal cuma 15 menit, trus keluar n temen2 sempet heboh….saya bercita2 jd pengacara sukses atao staf hukum..tp sampai saat ini sy msh terdiam dsni, mengurus rumah tangga, mjaga anak…kadang sedih, tp asal anak sy baik2 aja selama sy jaga saya ikhlas.

    Cutemom cantik,
    Momong anak juga menyenangkan lho…apalagi masih ada waktu menulis di blog. Agar tak lupa, bagaimana agar cutemom mulai menulis cerita yang ada kaitan dengan hukum pidana, sehingga saya dan teman-teman juga banyak belajar?

  20. Mempelajari sesuatu yang baru memang harus agak sedikit pede dan yang penting harus berpedoman ‘jika orang lain bisa maka sayapun harus bisa…..’

    Saya adalah orang yang benci memasak namun entah kenapa waktu itu, saya tiba2 berfikir “saya harus bisa belajar sesuatu yang paling saya benci, untuk mengukur kemampuan belajar saya….” Hasilnya?? Alhamdulillah, walaupun masakan saya nggak seenak koki2 kelas atas tetapi kalau cuma dibandingkan masakan ibu2 tetangga boleh diadu deh…. huehehehe…. 😛

    Yari NK
    ,
    Betul kang Yari, ada nekatnya juga….dan tak malu untuk bertanya, walau mungkin yang ditanya bosen karena kita nggak ngerti-ngerti juga….
    Saya nggak bisa masak, cuma bisa beberapa masakan, wahh pasti kalah deh kalau diadu dengan kang Yari.

  21. hmmm sekilas postingan ibu mirip dengan gaya andrea hirata, menulis dengan memadukan ilmu pengetahuan

    zoel chaniago
    ,
    Waduhh ya enggaklah, Andrea kan pintar sekali mengolah kata…..

  22. komen dulu… trus bacaa…. 🙂

    bloGEsam,
    Silahkan…

  23. biasanya kalo dah mentok dimasalah..kita baru nyadari klo kita perlu tau ilmu buat nyelesaiin masalah tadi ya… tpi emang paling enak… kita musti perkaya diri kita dgn wawasan.. he..he..
    maav klo gw sok tau ya… wekekkeke

    Masenchipz
    ,
    Kita memang harus selalu menambah wawasan…..

  24. catet..
    catet..
    pelajaran baru.

    trijokobs,
    Boleh kok dicatat…kalau tertarik dengan hukum ada postingan terdahulu….umumnya saya tulis di tag manajeman atau keuangan.
    Bisa juga dilihat ringkasannya disini https://edratna.wordpress.com/2008/10/12/
    apa-yang-harus-dipelajari-untuk-mendukung-kemampuan-seorang-ao/

  25. belajar selagi mampu bu…. eh ini fiksi to?

    Anang,
    Ini pembelajaran yang dikemas dalam bentuk fiksi…ehh benar enggak sih istilahnya…entahlah…

  26. hebat, bu enny!
    rasanya semakin banyak mengerti perbankan (dan sekarang hukum perbankan) setelah acap ke mari. fiksi yang bermanfaat sekali.

    mungkin untuk berikutnya ibu bisa sajikan dalam bentuk contoh kasus agar kemasannya jadi lebih fiksi.
    misalnya cerita tentang nasabah yang bermasalah, kemudian solusi oleh rita menggunakan pendekatan seperti yang ibu paparkan di sini.

    ditunggu cerita-cerita berikutnya, bu.

    Marshmallow,
    Aduhh justru yang jadi masalah mengemasnya itu lho…kok susah banget….atau perlu kursus menulis ya….? Tapi kan memang harus berani, dan dicoba terus… hehehe……thanks ya dorongannya…

  27. hukum pidana bu!! yah..saya selesai kuliah 4 taon yg lalu..taon 2004..dah agak2 lupa..paling kalo lg liat berita kriminal di buser/sergap dll ttg pasal2 saya baru inget lagi..hehehehehehe…oh iya bu, saya tadi main kekampus saya..rasanya pgn seperti dulu lg…jadi anak kul. karena sy senang mbaca n bljr..dah kaya anak SD aja yah..

    Cutemom cantik,
    Cobalah mulai ditulis dalam bentuk yang ringan…
    Saya juga akan ikut belajar….selama ini kan ngertinya hukum yang terkait perbankan, hukum perpajakan (karena tiap tahun harus mengisi SPT), uu lalin…dan hal-hal yang terkait kehidupan…

  28. kebetulan dapet istri orang hukum, kerjanya seputar hukum, divisi legal katanya … lumayan bisa numpang baca buku-bukunya

    Mascayo
    ,
    Wahh asyik dong, bisa belajar hukum dan berdebat terus …..tapi sebetulnya hukum itu menarik, cuma saya dulu kok nggak mikir ya….
    Rasanya dulu setelah SMA, kan impiannya kalau nggak kedokteran, ya teknik…padahal nyasar juga ke tempat lain. Setelah kerja, saya tertarik dengan hukum, dan psikologi……karena setiap hari digunakan.

  29. two thumbs up!!!
    wah, bunda keren sekali…
    meski masih sedikit tidak dong 😀 makasih bgt ilmunya bun….

    Septy,
    Masih terlalu sulit ya…..nanti kalau sempat dibuat cerita ya, biar agak lebih mudah dicerna….

  30. Semakin majunya sistem hidup manusia, campur tangan hukum di semua bidang tampaknya memang sangat dibutuhkan ya, Bu.

    “Fiksi” yang sangat menarik, Bu!

    Donny Verdian
    ,
    Tanpa hukum negara akan kacau, jadi memang hukum bersinggungan terus dengan kegiatan manusia…

  31. Cabang ilmu hukumnya kalau nggak salah hukum bisnis ya Bu Edratna? Penjelasan yang lengkap dan sangat membantu. Thanks.

    Rafki RS
    ,
    Waduhh nggak tahu mas…zaman dulu kan cuma ada hukum pidana dan hukum perdata…belakangan dibagi lagi menjadi beberapa cabang.
    Sebetulnya saya bukan dari hukum…tapi mau tak mau belajar hukum (terutama yang terkait dengan bidang kerjaan)….jadi supaya tak lupa, mencoba menuliskannya disini. Apalagi kalau mengajar, mulai dari keuangan, SDM, Hukum, dan lain-lain…memang akhirnya antar ilmu saling bersinggungan.

  32. hmm,
    sebuah renungan yang ringan,
    yang kesimpulannya bahwa,
    “manusia memang harus selalu belajar”
    sebuah adaptasi dibawah kata “untuk hidup”

    halah…
    jadi serius pula,
    apa kabar nich?

    Rahmadisrijanto,
    Pada prinsipnya memang kita harus terus belajar….benar….

  33. senang rasanya udah sampai disini, makasih yah bu…mau berbagi dengan saya.

    salam

    Mujahidahwanita,
    Syukurlah jika bermanfaat, senang mendapat kunjungannya….

  34. Lho lho…ini fiksi apa diary?
    Rita…rita…makin kesini makin berat ceritanya hihihi

    Poppy,
    Sssst…..diskusinya di KA I/9 aja…..

  35. Cerita Fiksi yang berilmu, justru penuturannya yang menyerupai fiksi membuat saya tertarik untuk membaca dan sekaligus mendapat ilmu perbankang. Terimakasih Bunda.

    Yulism,
    Ini kan baru latihan….entah benar nggak seperti ini bisa dikategorikan fiksi….
    Yang penting menulis dan sharing……

  36. Nggak bisa dipungkiri ilmu hukum merambah kesemua aspek kehidupan, apalagi dunia perbankan. Tidak ada salahnya kita mempelajarinya ya Bu, apalagi yang terkait dengan aktivitas kita sehari-hari. Contohnya teman saya yang telah menjadi spesialis penyakit jantung dan memiliki sebuah rumah sakit kecil di daerah, di usianya yang sudah cukup senior, dan sangat mapan, beliau melanjutkan pendidikan master dibidang hukum bersaing dengan putra-putranya yang masih kuliah.

    Yoga,
    Justru beliau memiliki rumah sakit, beliau harus memahami hukum…apalagi saat sekarang, semakin orang melek hukum, risiko hukum semakin tinggi, karena orang berani menggunakan haknya untuk menggugat jika kurang puas….

  37. makasih atas ceritanya ia karena bisa membantu aku untuk memahami tentang ilmu hukum.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: