Liburan, pada saat anak-anak telah besar

Liburan akhir tahun, tadi nya saya berencana mau ke Bandung. Ternyata suami saya sedang menyelesaikan tumpukan kerjaan, dan entah kenapa akhir tahun ini saya juga masih sibuk. Maklum kerjaan saya sekarang berdasar orderan, jadi kadang santai, kadang sibuk banget. Tapi tetap harus bersyukur, karena masih ada hal-hal yang dikerjakan, sehingga otak ini tidak berhenti untuk berpikir.

Kemarin, setelah janji ketemu dengan teman di kantor lama, berdiskusi, tak terasa telah tengah hari. Rencana mau langsung pulang, terus ingat kalau Gramedia di Grand Indonesia, hari ini terakhir mengadakan diskon 30%. Saya menanyakan pada Yoga, dimana lokasi Gramedia di Grand Indonesia, maklum saya baru dua kali ke sana, dan biasanya hanya untuk nonton di Biltz Megaplex. Ternyata lokasi Gramedia di lantai 2 dan 3 East Wing, masuk melalui menara BCA.

Gramedia penuh sesak, bahkan berjalanpun sulit sekali, banyak orang yang berjongkok, bahkan ada yang bersender di rak-rak buku kelelahan. Buku bertebaran kemana-mana…dan aduhh bagaimana cara mencari bukunya. Buku ada dilantai, di rak, campur aduk antara buku sastra, novel, bahkan buku untuk nama pengarang yang sama tidak disatukan. Memang ada bekas penataan, kalau sebelumnya telah diatur berdasar nama pengarang, berdasar jenisnya, namun yang ada sekarang, semua campur aduk menjadi satu. Paling berantakan adalah di daerah novel dan sastra, serta buku anak-anak, karena nyaris sebagian besar pengunjung tumplek blek di sini. Mungkin pegawai Gramedia juga udah kewalahan, lha yang antri di kasir saja seperti antri mau cari tiket kereta saat mau liburan.

Awalnya saya sudah patah arang, baru saja mau melihat judul buku, sudah disodok dari kanan kiri.

Udah, itu aja ambil, Deception point itu bagus lho,” kata ibu disebelahku pada temannya. Temannya ragu-ragu, kemudian beranjak jalan ke tempat lain. Saya amati buku karangan Dan Brown itu, yang hanya satu2nya di rak tersebut, mungkin yang lain bertebaran di rak entah dimana…akhirnya saya ambil buku itu, berharap mudah2an jalan ceritanya bagus.

Woo…ada buku karangan Gola Gong nyempil, judulnya “Cinta-Mu seluas samudra”…dan hanya satu-satunya buku karangan Gola Gong yang ada di situ. Entah kenapa, selama ini di Gramedia, saya jarang menemukan buku karangan Gola Gong, dan setelah baca blognya DM, jadi ingin baca bukunya. Setelah saya amati, saya baca sebentar, kemudian saya ambil buku karangan Gola Gong tersebut. Saya makin lelah, dan mulai pusing, maklum darah rendah saya suka ngadat kalau terjebak dalam kerumunan banyak orang. Ada beberapa buku yang sebetulnya ingin saya cari, tapi akhirnya saya urungkan melihat orang banyak berjejalan. Akhirnya saya mengambil 3 (tiga) buku lagi, yang juga mudah-mudahan bagus.

Sambil tersaruk-saruk, saya mendatangi Fab Cafe, yang ada di lantai 3, yang masih jadi satu area dengan Gramedia. Di sana terlihat banyak ortu yang duduk sambil minum, dan anak-anaknya mondar mandir membawa buku, minta persetujuan orangtua mau dibeli apa tidak. Saya merasa ada orang yang mengawasi dan memperhatikan, dan ternyata persis di depan ada seorang lelaki yang lagi melihat saya. Saya merasa ingat wajahnya, apa ndoro kakung ya, tapi kalau ndoro kakung pasti masih ingat. Akhirnya saya menyeret kursi dan mulai memesan mint tea dan sup. Lama-lama saya ingat, ternyata orang tadi adalah Helmi Yahya… tapi lha saya nggak kenal, jadi ya tenang-tenang saja. Mungkin Helmi Yahya juga sedang menunggu anaknya memborong buku.

Kali ini saya memang berniat memanjakan diri, walau mungkin kelima buku ini baru habis di baca enam bulan lagi, tergantung kesibukan. Lama ya? Betul, karena tujuan saya baca buku, terutama jika novel yang ringan, adalah untuk menenangkan hati, mengobati badan atau pikiran yang lelah, atau kalau idenya lagi buntu saat mengerjakan tugas, dan obat tidur.

Tapi pernah juga keliru memilih bacaan, awalnya saya pikir happy end, akhirnya memang happy end, namun ditengahnya terjadi beberapa kali kegagalan. Dan novel ini, membuat saya terharu, dan menangis…..rasanya lama sekali saya tak menangis hanya gara-gara baca novel…..tapi setelah selesai, ternyata dada ini terasa plong. Jadi, ternyata perlu juga ya baca novel yang bisa bikin kita menangis, dan membuat dada terasa plong. Biasanya saya memang suka cerita yang membangkitkan semangat, atau cerita detektif yang hasil akhirnya manis. Sebetulnya ada buku, yang sampai sekarang belum selesai saya baca, yaitu “Tunnels“, padahal bagus, ceritanya tentang bawah tanah, tapi kesannya kok gelap begitu ya….

Nahh dimana anak-anak saya? Si sulung yang sudah menikah, sejak akhir Agustus menyusul isterinya ke Miami, dan pagi ini saya menerima sms dari Lis, kalau mereka sedang melakukan perjalanan naik mobil ke Washington DC, yang diperkirakan 16 jam dari Miami, mampir di Tampa, Florida, terus ke North Carolina, baru ke Washington DC. Sedang si bungsu, sejak minggu kemarin heboh ke kondangan teman-temannya. Minggu yang lalu, teman seangkatannya menikah di Jakarta, dan satu di Bekasi. Sebagian tidur di rumah kami, dan ternyata pengalaman ini membuat mereka ingin juga menghadiri kondangan temannya di Jawa Tengah dan Jawa Timur sekaligus jalan-jalan. Si bungsu naik kereta api ke Yogya bersama 8 orang temannya, kemudian ke Secang, Magelang, dan melihat Borobudur. Pas saya telepon, dia mengatakan berada di Madiun, dan kemudian sms lagi sedang di Telaga Sarangan.

Yahh mungkin nanti kami sempat ketemu di malam Tahun Baru, karena si bungsu akan pulang dari jalan-jalan sebelum malam tahun Baru, dan saya masih ada rapat tanggal 31 Desember 2008. Ternyata liburan di rumahpun cukup sibuk dan menyenangkan. Setelah anak-anak besar, maka makin sulit untuk bisa berlibur bersama. Yang penting, pada akhirnya adalah bagaimana kita tetap bisa menikmati kehidupan, walau terkadang masing-masing anggota keluarga terpaksa berjauhan.

25 pemikiran pada “Liburan, pada saat anak-anak telah besar

  1. Iko

    Ibu seperti mama saya…..
    Terkadang suka bilang; “anak-anak sudah pada besar-besar suka jarang di rumah, sudah banyak acaranya sendiri-sendiri…”

    Tapi besok kami akan pergi berenang bersama mama… semoga cuacanya bagus.

    Dan untuk Ibu, berliburan di manapun bersama keluarga tercinta tetap akan selalu menyenangkan, meski hanya di rumah ^_^

    Selamat menikmati waktu liburannya yaa Ibu, semoga menyenangkan….

    Iko,
    Ya, begitulah seorang ibu, walau anak-anak telah dewasa tetap aja merasa kawatir.

  2. Saatnya pasti tiba, ketika kita akan hidup bersama pasangan kita, anak2 sudah besar dan mandiri. Orang tua saya, saat2 ini lebih banyak berada di kampung halaman (banyumas) ke jakarta jika ada arisan keluarga saja, sebab di kampung damai tenang, cocok untuk pensiunan. Sedangkan di kota orang tua saya sering kurang sehat, karena lingkungan yang sudah sangat10x padat, sehingga tidak baik untuk kesehatan.
    Selamat menikmati liburan akhir tahun, semoga tahun depan lebih baik dari tahun lalu.

    Resibismo,
    Jika punya kebun, mungkin saya juga akan kembali ke Kampung. Tapi setelah hidup di Jakarta lebih dari 25 tahun, saya malah bingung kalau kembali ke kampung, karena rumahku yang dulu letaknya dipinggir kota dan kiri kanannya kebun, sekarang sudah jadi rumah semua. Dan di kampung malah nggak punya teman, karena temannya rata-rata juga tinggal di daerah Jakarta.

  3. Hm.. I guess I will face that a bit later when my kids getting older Bunda… šŸ™‚

    Sekarang sih walaupun liburnya lain2, masih cukup bisa manageble at least setahun sekali.. šŸ™‚

    Tapi, rasanya menyenangkan yaa, bisa saling memonitor each other dengan setiap anak punya blognya masing2..? šŸ™‚

    Selamat liburan yaa Bunda.. šŸ™‚

    Nug,
    Hmm …iya, ternyata melalui blog saya bisa memonitor dan merasakan naik turunnya mood anak-anak. Kalau si bungsu, karena masih tinggal di rumah Bandung, rasanya masih nggak jauh, sewaktu-waktu bisa sms atau telepon.

  4. Saya juga lagi bingung liburan mau ngajak anak-anak ke mana, mumpung masih bisa ngumpul …

    Oemar Bakri,
    Saat teman-teman si bungsu kumpul di rumah Jakarta, terucap kalau mereka belum pernah ke Boscha. Lho, kok bisa? Padahal udah kuliah di ITB sampai lulus, dan sekarang beberapa melanjutkan S2 di ITB juga….
    Bandung sebetulnya banyak tempat wisatanya pak, alamnya juga indah, baik untuk Bandung utara maupun Bandung Selatan, walau semakin banyak pembangunan vila.

  5. Jika anak-anak sudah besar, apalagi sudah berumahtangga, bisa berkumpul semua dalam satu waktu ada kalanya memang cukup sulit.

    Di banyak keluarga, bahkan lebaran pun kadang tidak bisa semuanya ngumpul pada waktu yang sama, karena harus berbagi waktu dengan mertua, yang kadang waktunya bersamaan. Semakin banyak anak, semakin sulit ngumpul bareng. Kesempatan untuk bisa ngumpul bareng justru muncul pada saat ada perhelatan pernikahan salah satu anggota keluarga.

    Setelah bapak dan ibu wafat, kami tujuh bersaudara (yang tinggal berlainan kota) sepakat untuk bertemu setahun sekali, di luar waktu lebaran karena pada saat lebaran semua sibuk dengan keluarga intinya masing-masing. Sungguh menyenangkan, tujuh bersaudara kumpul bareng dengan suami/istri dan anak-anak (bahkan cucu-cucu) masing-masing ….

    Tutinonka,
    Tahun 2008 merupakan tahun yang berbahagia pada keluarga saya, karena kami tiga bersaudara mantu secara bergantian, sekaligus menjadi ajang pertemuan keluarga. Walau keluarga kecil, karena kesibukan masing-masing, membuat keluarga juga susah kumpul.
    Jadi benar mbak Tuti, harus dicari waktu yang bukan Lebaran untuk kumpul, karena transportasi juga lebih mudah. Sebetulnya acara untuk kumpul2 itu lebih mudah dilakukan kalau bulan Suro (Muharam), karena masing-masing jarang ada kondangan, sehingga bisa mengadakan acara dengan risiko gangguan kecil.

  6. Saya sendiri sebenernya pengen belanja banyak buku, tapi musti ngampet. Keinginan tak sesuai dengan isi dompet, hehe

    Dony Alfan,
    Harga buku memang mahal…makanya saya cari kalau lagi diskon.
    Tapi memang saya selalu menyisihkan dana untuk beli buku, dibanding untuk beli baju, kosmetik atau lainnya.

  7. liburan ini ga jd mudik. buhuhu… akhirnya keseringan di kamar, sendirian. sesekali ke toko buku. tp ga berani ke gramed grand indo. denger cerita kawan aja udah takut aku. kek pasar malam katanya, pepatnya naudzubillah. tp taon baruan ini mo jalan2 ke bandung, bu. ama org2 kantor sekeluarga besar! hwehe…

    v(^_^)

    Farijs van Java,
    Kadang jalan-jalan bersama teman lebih menyenangkan. Anak sulungku sama isterinya juga bermobil bersama teman-temannya, jika lelah istirahat di tempat peristirahat, tidur dulu di motel.
    Si bungsu juga jalan sama teman2nya, naik kereta api ke Yogya, terus naik bis, dan ternyata malah sekarang melipirnya udah sampai Surabaya. Agar murah meriah, perjalanan naik KA, bis, dan tidur di rumah temannya.
    Jadi nostalgia saat masih muda, suka jalan bersama teman-teman

  8. Liburan bebenah rumah. Abis biasanya kerja tanpa sempat bebenah barang-barang supaya kembali pada tempatnya…
    Begitu rupanya perasaan mama dan papa saat susah ngajak anak2nya keluar liburan saat gede ya (jadi merasa bersalah)…..
    Selamat berlibur Bu

    Prameswari,
    Iya, bebenah rumah memang perlu waktu khusus, karena setiap hari udah disibukkan pekerjaan.
    Saya mau menulis beberapa hal, karena tahu libur, kok jadinya males, ujung2nya tidur dan baca aja….

  9. Wah…saya juga jarang bisa berkumpul keluarga..karena dari dulu ngak tahu knapa sayalah yang paling jauh dengan keluarga. Entah sekolah…kerja dan sampai sekarang menikah.

    kalau hari-hari raya…tak didekat keluarga rasanya, sedih juga…ya tapi inilah jalan hidupku.

    Hanya bisa ketemu lewat udara (telpon)! šŸ˜€

    semoga Bunda sekeluarga bisa berkumpul bersama, menikmati akhir tahun yang menyenangkan! šŸ˜€

    Kweklina,
    Tapi yang penting bisa komunikasi kan, apalagi sekarang bisa telepon dan sms.
    Saya berharap bisa kumpul akhir tahun

  10. Bagi yang biasa tinggal di Florida, menuju Washington DC di musim dingin begini mungkin perlu hati-hati. Walaupun cuman 16 jam tapi musti nyetel radio terus dimana tempat-tempat yang turun salju. Kalau cuman salju sedengkul, belum berbahaya, karena paling diguyur garam dan pasir. Tapi yang berbahaya adalah frozen ice, sepintas seperti fatamorgana padahal membuat jalan seperti arena seluncur es (ice rink), bisa membuat mobil melintir. Mudah-mudahan tetap “biar lambat asal selamat”. Kalau mau ngebut lebih dari 65 mph sebaiknya di belakang mobil mewah (Oldsmobile, MB, BMW) karena biasanya mereka bawa “radar” untuk mengetahui dimana polisi yang pakai “pistol pengukur kecepatan” berada… dan biasanya melambatkan mobilnya sampai di bawah 65 mph..
    Tapi mudah-mudahan everything is ok, dan ikut mengucapkan Happy Holiday !

    Tridjoko,
    Ari dan Lis, ditemani keluarga Indonesia (mbak Irma), kenalnya di Wallmart, gara-gara Ari ngomong dengan Lis pake bahasa Indonesia. Jadi saat Lebaran mereka berdua diundang makan ketupat oleh keluarga Indonesia di Miami.Tadi pagi baru sampai di Daytona, lihat sirkuit malam hari tanpa lampu. Dan niatnya memang santai, tiap kali istirahat, tidur di motel, tak ada target kapan sampai di Washington DC.

  11. Hmmm ibu… salah satu tujuan saya belajar internet/webmaster dan blogging itu salah satu untuk masa depan juga. Jika sudah tidak kemana-mana, anak-anak (duh masih jauh sih emang) tidak bisa menemani ibunya, bisa melewatkan waktu di depan komputer. Saya pernah baca ada nenek-nenek berusia 80-an yang terus blogging sampai dia meninggal… saya mau kayak gitu ah hihihihi.

    toko buku? saya memang jarang ke toko buku, karena kalau bisa beli online lebih baik online saja. Malas pergi dan berdesak-desakan… kecuali kalau sekalian abis mengerjakan sesuatu/sekalian pergi belanja yang lain.

    EM

    Ikkyu san,
    Wahh kalau di Indonesia kepuasannya justru membolak balik buku itu…dan kemarin akhirnya saya ikutan jongkok, dan membuka buku satu persatu….seru banget. tapi ga selesai karena keburu lapar, harusnya makan dulu.

  12. Betul Mbak Enny, di toko buku itu asyiknya karena bisa membuka-buka dulu, dan bisa numpang baca. Saya nggak pernah belanja lewat on-line, soalnya kalau mau beli sesuatu, penginnya pegang barangnya dulu. Misalnya beli sepatu, meskipun ukurannya sudah tahu, tapi tetap harus dicoba dulu, soalnya untuk model yang berbeda ‘rasa’nya di kaki juga beda. Beli tas juga harus diraba dulu (halah!), bahannya seperti apa. Lagipula warna bisa berbeda antara di foto dengan aslinya.

    Tapi kalau belanja di pasar saya agak enggan, soalnya nggak bisa nawar, jadi sering kemahalan … hehehe … Belum lagi panas dan berdesak-desaknya, rayuan penjualnya yang bikin pusing …

    Tutinonka,
    Kalau ke pasarnya bareng teman yang bisa menawar seneng juga, asyik aja melihat situasinya….melihat para pedagang dan pembeli saling menawar (saya suka mengamati, bukan belinya…hehehe)

    Membaca buku, yang menyenangkan adalah kita bisa secara outline lihat bukunya dulu. Dan saya sebetulnya malas kalau beli yang judulnya trilogi…..karena seringnya nggak semuanya ada. Pernah baca bukunya Clara NG, yang trilogi…hmm sampai sekarang ada satu judul yang nggak bisa diketemukan lagi. Enakan yang satu buku selesai, kalaupun berlanjut, udah beda cerita.

    Ada juga sudah suka pada salah satu pengarang, ternyata tak semua bukunya bagus…wahh nyesel deh, tapi manusia memang tak sempurna ya…jadi berpikir, nulis blog aja kadang nggak punya ide, apalagi mengarang dan bisa jadi buku tentu lebih sulit.

  13. Wah wah wah, memborong buku.
    Oh ternyata Ibu menderita darah rendah juga ya? Istri saya juga dan saya jadi berpikir kenapa banyak sekali wanita menderita penyakit darah rendah ya..?

    Tak istriku, tak adikku dan sekarang aku tahu Ibu.

    Donny Verdian,
    Wahh isterimu ternyata darah rendah juga ya? Dan suka migren? terutama waktu-waktu yang itu?
    Mungkin ini memang penyakit kaum perempuan, dulu saat mahasiswa lebih parah lagi, sedang asyik berbelanja ke Pasar Bogor, saat teman saya ngajak omong, tahu-tahu saya udah pingsan…hahaha..Jadi, saya biasanya menghindari orang yang berjejalan, kemarin udah mulai terhuyung-huyung, jadi ya berhenti, makan dan minum dulu…jadi kalau jalan-jalan sama saya jatuhnya mahal.

    Oleh karena itu kalau belanja harus dinikmati, tak dibawah tekanan, dan tak di uber waktu…kemarin sempat juga duduk di bawah, menikmati baca sambil jongkok, lama-lama ndlosor juga…mengasyikkan dan bisa tahan lama, kalau perut udah diisi dulu…lain kali harus diingat-ingat, mampir cafe dulu sebelum berburu buku.

  14. toko buku di sini bu… pusing nyari bukunya… hurufnya kecil-kecil mana kanji semua hehehhe
    Kalau saya tinggal di jakarta sih buat apa belanja online. waktu itu saya satu kali ke jkt saja belanja 20 buku kan…. Makanya ngga mau pergi ke toko buku… BAHAYA terhadap dompet/kartu kredit hihihi

    selain buku, saya malas ke toko. mungkin karena saya memang malas berbelanja ya? (Bilang aja takut keseringan buka dompet hehhehe)

    EM

    Ikkyu san,
    Memang ada plus minus, belanja langsung dan secara on line. Kalau belanja on line nggak capek, resensi bukunya juga bisa dibaca lebih dulu.

    Belanja langsung, senengnya ketemu orang banyak, lucu aja mengamati tingkah polah orang, mungkin mereka juga geli kalau mengikuti saya ya….ada yang jongkok, ndlosor…bahkan ada yang merem dan bersandar kelelahan. Ada nenek dan kakek yang di dorong di kursi roda, ibu yang lari-lari ngejar anaknya, dan bertubrukan dengan orang lain…saya sampai geli sendiri….yang akhirnya terhenti setelah mulai berkunang-kunang, yang kalau nggak segera diatasi berbahaya (saya gampang pingsan).

    Jadi setelah dapat 5 buku, ya ke Cafe….padahal kalau dihitung-hitung, mungkin lebih murah beli di PIM, yang nggak diskon, dan bisa makan croissant plus coklat latte. Lha ke Grand Indonesia kan taksinya lebih mahal…hahaha…tapi seneng aja kok, menghibur diri sendiri, setelah capek diskusi dengan teman-teman.

  15. Di Le Creusot toko buku hanya satu, hampir setiap beli buku harus pesen dulu. Sedang di dekat rumah ada perpustakaan daerah yang lumayan besar.

    Sering pula aku cari buku/sesuatu ke Chalon, Dijon bahkan Liyon. Sekalian jalan-jalan, mumpung ada diskon 50% naik kereta; tapi harus membawa anak karena anak aku dapet diskon.

    Juliach,
    Sayang saat ke Paris, saya ga sempat mampir ke toko buku. Saat ke London (ada tugas seminar), tiap selesai seminar mampir toko buku di pojokan Trafalgar Square…tokonya luas sekali, dan tiap lantai hanya di jaga satu orang. Wahh rasanya pengin beli banyak, tapi mikir bawanya, juga setelah itu mesti mampir ke Paris.

  16. Yang saya sukai ketika berjejal-jejal di toko buku minggu lalu adalah, melihat begitu banyak keluarga yang antusias memburu buku favorit masing-masing. Ada yang datang lengkap, mulai dari kakek nenek sampai bayi yang belum bisa baca buku, walhasil, ketika anggota keluarganya belum selesai berburu, banyak yang duduk “ndlosor” di lantai dan dengan cueknya tidur. Yang sedang cari buku, susah lewat, tapi melihat keasyikan masing-masing, sudah jadi hiburan sendiri. Sedihnya, banyak buku terinjak-injak.

    Yang tidak saya sukai, ada tiga buku yang saya inginkan dan harganya masing-masing diatas satu juta šŸ˜¦

    Bu, 2 bulan lagi ada toko buku baru yang buka, Times bookstore dan Gramedia di Pejaten Village. Siap-siap. šŸ˜‰

    Btw, untuk buku import ternyata masih lebih murah di Times. Saya sempat mencocokkan harga satu dua buku, selisihnya sebelum diskon sekitar 40 ribu. Padahal di Times harga itu belum di-diskon 10% (soft opening exhibition).

    Yoga,
    Iya…benar-benar pemandangan menarik….mestinya ke sana bareng Yoga ya, bisa cekikikan berdua. Tapi pas libur kemarin, saya puasa, terus kemudian mesti ke kantor dulu…setelah selesai baru ingat diskonnya masih berlaku.

    Pengalaman yang mentakjubkan memang, dari anak balita sampai kakek nenek, dari yang sehat, sampai yang di kursi dorong, pakai tongkat, tumplek bleg jadi satu….lebih heboh dibanding saat ke Indonesian Book Fair (atau karena bukan hari Sabtu Minggu ya).

    Banyak yang jongkok, ndlosor, dan merem melek kelelahan bersandar di rak buku….hehehe.

    Dan saya juga beli buku, karena mendengar omongan sebelah menyebelah buku ini bagus lho (karangan Dan Brown), dan karena saya udah baca 2 bukunya Dan Brown (Da Vinci Code, serta Angel & Demon), akhirnya saya terpengaruh juga.

  17. wah, liburannya bakal menyenangkan deh dengan banyak bekal buku begitu, bu.
    jadi ingat waktu saya ketemu helmi yahya di toko buku juga, di kinokuniya KL. waktu itu saya dengan noraknya nanya apa “kuis siapa berani” masih tayang, karena waktu itu saya udah cukup lama meninggalkan tanah air. hihi! soalnya saya penggemar kuisnya.

    selamat liburan dan selamat tahun baru, bu enny.

    Marsmallow
    ,
    Makasih…dan memang betul, liburan lebih menyenangkan karena ada persediaan buku, yang bisa dibaca kala males ke laur rumah. Apalagi kemarin menunggu si bungsu yang masih kurang sehat…tapi kalau dia sehat, malah kemungkinan tak bisa ngobrol terus menerus, karena pasti sibuk dengan kegiatannya.

  18. Wah, saya belum sempat ke Gramed GI tuh Bu…
    Katanya rame banget ya?
    Kayaknya Gramedia harus sering2 buat acara ginian, pindah2 toko. Jadi, daya beli buku bisa meningkat.

    Hery Azwan
    ,
    Kalau tak ada diskon buku, mungkin saya belum menyambangi Gramedia GI….maklum ada dua Gramedia yang lebih dekat dari rumah, yaitu Pondok Indah dan DBest.

    Ramenya minta ampun, buku berserakan di tanah, tercampur baur, orang ada yang tertidur di lantai karena kelelahan….padahal pengunjung GI paling tidak kelas menengah ke atas…rupanya penggila buku memang tidak main-main kalau lagi berburu buku.

  19. Deception point seru kok bu….
    tapi mosok ndoro mirip sama helmi yahya? bukannya ndoro mirip sama tukul
    *dirajam ndoro*

    Itikkecil,
    Kelemahanku, susah membedakan wajah orang…selain saya sendiri katanya wajahku termasuk pasaran (banyak yang keliru menyapa, dikira temannya). Jadi, saat ada orang kok melihat kearahku terus menerus, saya pikir pasti kenal…cuma masih agak gengsi untuk mendekat…hehehe….memang ada miripnya dengan ndoro kok.

  20. mbak Eni…ternyata cara menikmati liburan bermacam macam ya…..dan semua bisa dibuat sangat menyenangkan,tinggal bagaimana sutradaranya…maksud saya si Ibu atau salah satu anggota keluarga yang merancang kegembiraan.
    Selamat libur…selamat tahun baru….nggak rapat terus lho mbak….

    Dyah suminar,
    Iya mbak, yang penting hatinya, dan kedekatan dengan keluarga….libur dimanapun tak masalah.
    Jadi ingat, saat masih aktif, suami saya sering menunggu isterinya sampai malam, yang terpaksa nglembur di kantor….hehehe

  21. Menurutku, ada atau tanpa anak-anak, liburan ke toko buku tetap merupakan keasyikan tersendiri toh, Bu… šŸ™‚

    Daniel Mahendra,
    Iya betul…..tapi kalau keseringan ke toko buku, bisa bangkrut, karena dorongan nafsu belanja nya lebih besar, di banding ke toko pakaian atau yang lain.

  22. Ada kalanya sekeluarga berkumpul, dan tentu itu merupakan sebuah berkah. Namun saat kondisi tak memungkinkan, kita mesti bisa mencari kesibukan yang menyenangkan agar tak merasa kehilangan. Bukankah begitu, Bu… šŸ™‚

    Daniel Mahendra,
    Iya, selama ini saya bisa mengatasi masalah tersebut, apalagi semuanya sibuk. Kalaupun saya bisa berlibur, kadang suami pekerjaannya lagi menumpuk, atau anak-anak mau ada ujian. Jadi, yang penting adalah memaklumi kondisi masing-masing, dan saling menyesuaikan.

  23. tini

    iya… bu kalau ke Gramedia dia memang gak boleh bawa uang banyak, nanti kalap.

    jadi saya program, kalau budget tipis 1 bulan satu buku, kalau lg ada rejeki boleh lebih…. kalau yang berhubungan dengan pekerjaan…. reimburse ke kantor…..

    Tini,
    Betul…entah kenapa kalau lihat buku suka kalap, padahal kan bacanya juga antri…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s