Belajar dari pengalaman orang lain

Pada Kompas minggu beberapa waktu lalu, saya membaca cerita tentang perjalanan hidup desainer kenamaan Indonesia. Yang membuat saya terkejut dan salut adalah, ternyata beliau pernah di diagnosa ADHD, kemudian disekolahkan ke SLB sampai umur 14 tahun. Karena tidak mengalami perkembangan berarti, orangtuanya memutuskan untuk menyekolahkan ke Perancis, dan akhirnya kembali ke Indonesia menjadi perancang yang patut diperhitungkan hasil rancangannya. Kebetulan pula, museum beliau yang terletak di jalan Cilandak Dalam sering saya lewati dalam perjalanan pulang ke rumah. Dari cerita tersebut saya merasa orangtua tokoh tersebut perlu mendapatkan apresiasi, karena bisa melihat bakat anaknya, diantara keterbatasan yang ada. Dan ternyata jalan yang dipilih tak salah, karena putranya berhasil, malah banyak berbuat baik pada sesama, mempunyai banyak anak  asuh yang dibimbingnya.

Perhatian orang tua sejak dini atas kompetensi anak, akan menolong perjalanan anak di kemudian hari. Dan cerita tersebut kemarin dengan hangat kami diskusikan saat mantan tetanggaku berkunjung ke rumah. Beliau suami isteri datang ke rumah bersama putra sulungnya, yang  satu sekolah dengan anak sulungku saat di SD dan SMP. Rasanya sudah lama sekali kami tak ketemu, jadi obrolan berlangsung seru, sambil mengingat kejadian saat anak-anak kami masih SD, masih pakai celana merah (seragam SD).

Sebelum saya pindah ke rumah sendiri, tetanggaku ini lebih duluan keluar dari kompleks karena mendapat tugas  di luar Jawa…Putra sulungnya, saat itu adalah termasuk anak-anak yang biasa saja, bahkan dari sisi kemampuan terlihat lebih menonjol adiknya. Kelebihannya adalah  lebih matang dibanding usia anak-anak seumurnya. Dibanding anak sulungku yang selalu resah, mencari-cari jawaban atas segala macam pertanyaan yang muncul di otaknya, teman anakku ini sangat tenang. Saat SMA, dia diterima di sekolah yang terkenal suka tawuran, namun hebatnya sahabat anakku ini tak terpengaruh. Kala itu, orangtuanya tak berani berharap banyak setelah dia lulus SMA, namun ternyata anak ini bisa meneruskan ke Perguruan Tinggi  dan kemudian melanjutkan ke S2. Saat ketemu kemarin (sekarang dia baru menikah) mengabarkan kalau sudah diterima menjadi dosen di salah satu Perguruan Tinggi Negeri, dan berencana melanjutkan kuliah S3. Betapa hebatnya, orangtuanya sendiri tak pernah membayangkan ini, namun anak ini pelan-pelan tapi pasti bisa menapakkan kakinya dan terus berlanjut. Obrolan kami ini memberikan tambahan wawasan, bahwa kami, orangtua harus mengenali kompetensi putra putrinya, dan mengarahkannya. Saat ini telah banyak test psikologi yang dilakukan oleh ahlinya, sehingga paling tidak, baik orangtua ataupun anak bisa menilai diri sendiri dari hasil test tersebut. Walau demikian terkadang tidak mudah, karena orangtua masih dihinggapi keinginan agar putra/putrinya meneruskan pendidikan pada jurusan atau keahlian tertentu yang dibanggakan masyarakat, di satu sisi si anak juga masih banyak terpengaruh teman-teman nya. Disinilah diperlukan adanya pemahaman dari orang yang memang ahli.

Pada saat ini, makin banyak cabang pekerjaan yang terbuka, yang jauh lebih luas dibanding waktu saya baru lulus SMU. Pekerjaan tersebut juga menantang, serta menghasilkan pendapatan yang bisa mencukupi hidup sehari-hari. Pekerjaan yang sangat sesuai dengan kompetensi dan passion kitalah sebetulnya yang akan berhasil baik. Namun hal ini juga tergantung dari kemauan kita, karena banyak juga yang sebetulnya tidak tahu persis tugas apa yang akan dilakukan pada saat melamar pekerjaan, karena kecenderungan kita yang hanya melihat dari penampilan luar jabatan seseorang.

Sebagai orangtua, terkadang kita mempunyai anak yang biasa-biasa saja, malah terkadang jauh di bawah kemampuan orangtuanya. Namun selalu ada hal yang tak pernah kita tahu, kemampuan terpendam dari seseorang. Dari obrolan dengan teman, kita bisa melihat bahwa banyak hal yang terjadi di luar dugaan kita. Hal-hal yang dulu sangat kita kawatirkan, akankah kita bisa melalui nya karena merasa kurang mampu. Kerja keras, semangat untuk berjuang, itu merupakan nilai untuk mencapai keberhasilan. Adik saya yang tinggal di luar kota Jakarta, mampir ke rumah setelah menghadiri undangan sahabatnya, saat seperti ini merupakan saat saya berdua adik mengobrol nostalgia, kenangan masa kecil maupun kejadian-kejadian sampai saat ini. Adik saya, yang sekarang menjadi dosen di Perguruan Tinggi Negeri di kota S, cerita tentang temannya. Putra temannya, saat kecil di diagnosa “agak lemah” dalam menerima pelajaran, akibatnya dimasukkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Kemajuan yang diperolehnya lambat sekali, tapi kedua orangtuanya sangat menyayangi putranya ini.  Anak ini, tahu-tahu saat SMA kemampuannya maju dengan pesat, dan akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran di universitas negeri, yang termasuk 10 besar di negeri ini, dan saat ini sudah hampir lulus. Mendengarkan dan melihat pengalaman orang lain, membuat kita tahu, betapa sebetulnya Tuhan mencoba iman dan kekuatan manusia untuk menghadapi berbagai percobaan. Kami berdua mengobrol sambil introspeksi ke masa lalu, dan saya ingat sempat senewen,  gara-gara saat TK anak sulungku belum bisa memegang gunting dengan benar. Jika anak lain dengan mudah bisa menggunting kertas warna warni, si sulung mengguntingnya tak pernah betul…..saya melatih tangannya setiap hari dan akhirnya dia bisa menggunting kertas seperti temannya. Anak adik saya yang laki-laki ternyata juga mengalami hal sama, kemudian oleh gurunya disarankan untuk bermain pasir dan latihan menggenggam pasir dengan tangan. Saran ini dilakukan oleh adikku, dan putranya dapat mengatasi kesulitannya.

Terkadang satu anak mempunyai perkembangan kemampuan yang lebih lambat dibanding anak lain, orangtua tak boleh membeda-bedakan, namun harus mendorong anak yang lambat ini dengan kasih sayang. Sahabatku cerita, dia hanya berbeda dua tahun dengan adiknya. Saat kecil, si adik ini menempel kemanapun dia pergi, dan menangis pengin ikut sekolah, akhirnya orangtua memutuskan kedua kakak beradik ini sekolah bareng, bahkan sekelas. Saat kelas 1 SD, si adik masih sering mengompol, karena baru menjelang umur 4 (empat) tahun. Sampai kelas 3 (tiga) SMP, kakaknya (yang merupakan temanku) selalu menjadi juara pertama di sekolahnya. Namun apa yang terjadi? Dalam perkembangan selanjutnya, sejak kelas 1 SMA, juara sekolah selalu dipegang si adik dan kakaknya menjadi juara 2. Dan ini terus berlangsung saat mau melanjutkan kuliah, si adik diterima di ITB dan IPB, sedang kakaknya hanya diterima di salah satu perguruan tinggi tersebut. Dan adiknya mendapat beasiswa karena merupakan anak yang mendapat nilai terbaik saat masuk UMPTN. Dari cerita-cerita di atas, sebagai orangtua kita selalu dicoba dan tak boleh patah semangat dalam menghadapi kekurangan anak-anak kita. Namun kita harus memberikan dorongan yang penuh kasih sayang karena kemampuan anak untuk mengembangkan diri sangat berbeda.

Selain hasil akhir yang bagus, ada juga cerita yang hasil akhirnya menyesakkan. Sahabat satu SMA adikku, bekerja di perusahaan minyak. Pada saat teman-temannya masih harus mengatur uang agar cukup untuk makan sebulan, temannya (kita sebut N) telah bisa membeli mobil baru dengan tunai, bahkan telah punya rumah. Sekian puluh tahun berlalu, saat reuni betapa kaget teman-teman nya, N yang dulu ceria muncul dengan lesu. N cerita dia sudah habis-habisan, rumahnya yang besar dan indah, serta mobil-mobilnya dijual untuk mengobati isterinya yang terkena narkoba. Isterinya? Saya kaget, dan ternyata benar…dan masih beruntung kedua putri N tak ikut terkena narkoba, salah satunya telah lulus kuliah dan bekerja. Lho, kok sampai isteri N terkena narkoba, bagaimana ceritanya? Ternyata isteri N ini punya langganan salon, suatu saat dalam obrolan dengan sesama pengunjung salon, ditawari pil pelangsing…..dari sinilah dimulai, rupanya pil pelangsing ini telah dibubuhi narkoba. Aduhh…bayangkan, seorang ibu kok terkena narkoba hanya gara-gara ingin cantik dan langsing. Teman-teman N sangat marah mendengar cerita ini, dan N sekarang hanya tinggal punya satu rumah sederhana di kampung, oleh teman-temannya diingatkan agar jangan sampai rumah ini dijual lagi untuk biaya pengobatan isterinya. Kata teman-temannya…”N, ceraikan aja isterimu, untuk apa mengurusi orang yang tak tahu diri.” Rasanya sedih sekali, betapa bahaya narkoba ini ada dimana-mana. Saya pernah cerita ke teman, bahwa ternyata lebih enak jadi isteri pejabat dari pada menjadi pejabat. Lha kalau menjadi pejabat, kan kepala pusing memikirkan tugas. Sedang isteri pejabat, karena uang suami banyak, malah terkadang terlihat menghamburkan uang tersebut….tentu saja tak semua seperti ini, karena banyak juga isteri pejabat yang bisa mengatur keuangan dan menjadi isteri serta ibu yang baik.

Iklan

22 pemikiran pada “Belajar dari pengalaman orang lain

  1. wah thanks for sharing… cerita2nya (kecuali yang terakhir hehe) sangat memotivasi.

    soalnya terus terang saya sendiri kadang merasa.. hmm gimana ya… mungkin tadinya saya terlalu high expectation ke andrew. saya pengen anak saya itu selalu jadi nomor 1 dibanding anak2 seusianya. terutama di bidang musik.

    tapi ternyata malah dia ‘kalah’ ama temen sekelas les musiknya. si andrew kayaknya susah banget disuruh main piano. sampe gregetan. dulu saya sampe suka marah2.

    tapi akhirnya saya nyadar juga sih. gak boleh begitu. kemampuan anak2 kan berbeda2. minat anak juga berbeda2. akhirnya saya udah gak maksa dia sih. biarin aja sekarang les privat aja, supaya gak merasa berkompetisi ama temen sekelasnya. biarin aja walaupun perkembangannya pelan2 tapi yang penting tetep belajar… 😀

    yah masa depan orang siapa yang tau ya… semua Tuhan yang ngatur. kita orang tua cuma bisa berusaha, memotivasi, ngasih jalan, dan berdoa.. semoga anak kita bisa berhasil dan sukses di masa depan… 🙂

    Arman,
    Saya pernah baca di majalah, anaknya pemusik tekenal (pianis), akhirnya menghentikan anaknya kursus musik, gara-gara setiap anaknya latihan piano, wajah anaknya mendung terus tanpa senyum. Saat anak-anak kecil, dileskan piano, maksudnya agar antara otak kiri dan kanan berimbang, sesekali ikut konser. Namun setelah lulus SD saya lepas…biar mereka yang memilih jalan hidupnya….dan ternyata kok ya nggak diterusin ya…:((
    Yang sulung sesekali masih main piano, yang bungsu nggak pernah lagi…kayaknya lebih suka main solder…belakangan di blognya malah menulis gantung solder…hahaha……

  2. (maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
    Setiap orang mempunyai kemampuan dan kompetensi yang berbeda-beda. Sayangnya seringkali kita hanya melakukan generalisasi dalam melakukan penilaian.
    Kepandaian hanya diukur berdasarkan prestasi akademik sekolah. Padahal IQ, bukan utama pintar tidaknya seseorang

    Yup…betul…..
    IQ, EQ, dan SQ….
    .

  3. (maaf) izin mengamankan KETIGA dulu. Boleh kan?!
    Sering kali kita menyaksikan anak-anak yang ‘biasa kepandaiannya’ ternyata mampu lebih eksis dan sukses dikehidupannya.
    Dan sebaliknya tidak sedikit anak-anak berIQ tinggi yang bertekuk lutut pada kehidupan.
    Tinggal kita bisa menemukan kelebihan seseorang dan memanfaatkannya, mendorongnya untuk mencapai kesuksesan

    Itu karena antara kematangan, kedewasaan, dorongan motivasi (achievment drive) tidak seimbang.
    Yang terlihat biasa mungkin lebih matang dan pelan-pelan dia malah bisa menyusul yang pandai…banyak kan cerita seperti ini.
    Saat SMA, saya termasuk yang diperhitungkan…begitu kelas 3, ada sahabatku (cowok) yang langsung melejit tak terkalahkan…jadi mungkin dulu dia belum terlalu minat untuk belajar….

  4. Tadi malam, tanpa sengaja saya melihat tayang TV yg berisi “pencarian jodoh”. Terus terang saya gak suka sama sekali dg acara itu. Tapi, saya urung memindahkan chanel karena di situ ada seorang komedian bertubuh mini bernama Daus sedang menceritakan kepedihan hatinya akan kondisi tubuhnya tersebut.

    Sungguh, tidaklah mudah menjalankan hidup seperti itu. Di saat orang berumur 23 tahun memiliki ukuran tubuh normal, sementara dia dengan umur 23 tahun masih seperti anak berumur 6 tahun. Dia tak mampu menyembunyikan kesedihan hatinya.

    Yang menarik perhatian saya adalah, ceritanya soal bagaimana kedua orangtuanya membesarkan hatinya dan memberinya kalimat sakti: “kekuranganmu adalah kelebihanmu”. Kalimat itu ternyata terbukti ampuh, dan si Daus bisa terkenal sampai sekarang karena kemungilan tubuhnya itu.

    Saya rasa, kita juga patut belajar dari Daus dan keluarganya…

    Apa kabar Bu Enny? Maaf sudah lama sekali tak main ke sini 🙂

    Hehehe…Uda pasti sibuk ya…..saya juga mohon maaf karena jarang blogwalking, hanya memaksakan diri untuk terus menulis.
    Ya, sebetulnya dibalik kelemahan, Tuhan memberikan kekuatan, yang kadang belum tergali sepenuhnya.
    Dan saya makin percaya, orangtua yang mampu melihat kelebihan anak-anaknya, akan bisa mendorong anak itu berhasil di kemudian hari.

  5. Banyak sekali yang bisa kita ambil dari mempelajari pengalaman orang lain bu..
    dan itu juga yg lia terus dan terus tanggap.. bukan mencoba membandingkan2 namun kita semakin bijaksana 🙂

    Beruntung lia memiliki Orangtua yg tidak pernah memaksakan kehendaknya 🙂

    terima kasih bu sharingnya …

    Ya, tulisan ini hanya hasil obrolan dengan adik yang jarang ketemu dan teman, yang mungkin ada gunanya

  6. artikel yang inspiratif, kadang sulit untuk menerima anak dengan apa adanya karena lingkungan sering menciptakan standardnya sendiri, yang baik adalah begini, yang pintar adalah begitu, sehingga saking pengennya kita mengikuti standard sampe melupakan potensi lain yang mungkin saja dimiliki anak.

    Betul mas, dan orangtua punya standar sendiri. Ini juga yang saya lihat, jika salah satu orangtua berasal dari PTN terkenal, mereka juga menginginkan anaknya masuk kesana…padahal kompetensinya mungkin beda, dan juga keberhasilan anaknya tak harus dari lulusan PTN terkenal itu

  7. ibu tinggal di deket cilandak? saya juga di cilandak bu,belakang citos tepatnya. yg dimaksud desainer kenamaan itu si HD ya bu? alias harry dharsono kan?? rumahnya ada pagar HDnya gede2 soalnya 😀

    soal ADHD ,setau saya biasanya itu adalah anak2 yg punya kelebihan ,karena mereka punya alamnya sendiri. termasuk salah satu keponakan saya yg menderita hal yg sama.

    tapi kalau kita ingat cerita2 orang yg hebat jaman dulu,kebanyakan juga seperti itu,contohnya einstein,dia dulu agak nyentrik dan aneh disekolah,tapi dia adalah salah satu tokoh terkenal sepanjang masa karena penemuannya itu

    Jangan-jangan Didot tetanggaku…..lha saya tinggal dibelakang Citos…hehehe…
    Alamat japri aja ya, siapa tahu ntar ketemu dijalan saat jalan-jalan pagi

  8. Malah tak jarang, lo Bu, ketika orangtua melihat ada orang lain sukses dalam hidup karena menggeluti bidang tertentu, dengan serta merta -tanpa membaca potensi dasar anaknya terlebih dulu- anaknya disuruh (begitu saja) menggeluti bidang yang digeluti orang sukses tadi, padahal sejatinya anaknya memiliki potensi dasar yang lain, yang jika dikembangkan berpeluang sukses melebihi kesusksesan orang tadi.

    Jadi, saya setuju Bu, orangtua perlu membaca potensi anak sejak dini. Salam kekerabatan.

    Betul pak….kadang orangtua ingin melihat anak sukses di bidang yang sudah menunjukkan keberhasilan beberapa orang.
    Padahal mungkin saja anaknya lebih sukses di bidang lain, yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

  9. memang tdk mudah utk mengetahui kelebihan anak atau minatnya ,kalau kita gak dekat dan sering berkomunikasi, memperhatikan anak2 dengan teliti.
    saya salut dgn ortu yg mampu melakukan hal tsb, krn dgn demikian anakpun terbantu atas kejelian ortunya.
    terimakasih Bu Ratna, utk tulisan yg penuh motivasi ini.
    salam hangat utk keluarga
    semoga selalu sehat.
    salam

    Saat anak-anak kecil, saya banyak baca dari majalah Ayah Bunda, maklum ibu dan ibu mertua telah tiada.
    Ternyata banyak pengalaman dari sekitar kita yang bisa memberikan inspirasi

  10. sebuah pengalaman hidup yang benar2 berharga, bu. ternyata hidup berkeluarga memang butuh manajemen yang rapi sekaligus juga hati2 dalam bersosialisasi. hanya dengan berkenalan di sebuah salon, ternyata berujung menjadi pencandu narkoba. “penyakit” yang satu ini memang bisa membikin rumah tangga hancur berantakan. terima kasih share infonya, bu. salam.

    Betul pak, hubungan ayah ibu sangat penting peranannya terhadap kebahagiaan anak.
    Narkoba benar-benar harus diwasadai, korbannya bisa siapa aja, pada usia berapapun

  11. Hi Bu Ratna, apa kabar?
    Cerita2nya memotivasi sekali bu.

    Saya sering bertemu2 dengan teman2 yg sukses di masa dewasanya, padahal waktu sekolah prestasinya biasa2 saja bahkan ada beberapa yg (terlihat) kurang pintar. Mungkin ibarat mesin ada mobil yang panasnya lama, tapi sekalinya jalan bisa langsung ngebut ya Bu…

    Alhamdulillah saya dibesarkan di keluarga yang memberikan saya peluang untuk mendalami bidang yg saya minati dari kecil. Harapan orangtua jelas ada ya bu, tapi manusia nggak bisa memenuhi semuanya kan? Hehehe

    Betul Ditta, jadi ingat komentar temanku….temannya dulu biasa-biasa saja..karena menikah dengan seniornya yang pinter dan kemudian sempat dikirim ke AS untuk ambil gelar DR..ternyata si isteri juga ikut berkembang…..dan dia akhirnya sekarang telah mencapai tingkatan Profesor.
    Itulah kehidupan, dimanapun kita berada, harus berupaya menjadi orang yang berguna, dan berjuang untuk meraih kehidupan lebih baik (tidak harus kaya..tapi berbahagia)

  12. Wah hal ini mengingatkan saya pada kejadian menjelang Joyce lahiran dulu. Banyak bener yang menawarkan masukan baik yang masuk akal maupun yang tidak, Bu. Dan akhirnya, kebijaksanaan lah yang menuntun mana yang harus diikuti dan mana yang tidak…

    Betul Donny, kita tetap harus menimbang baik buruknya dari segala segi.
    Odi udah bisa apa sekarang?

  13. Ping-balik: Tweets that mention Belajar dari pengalaman orang lain « -- Topsy.com

  14. Kecerdasan memang tidak hanya terletak pada kecerdasan IQ, ada sisi2 kecerdasan yg lain yg harus pula di asah dan diperhatikan,

    Saya berharap kelak saya bisa menjadi suami yang cerdas, yg memiliki istri yang cerdas pula 😀

    Amien

  15. mmmm…pengalaman orang memang ilmu yg tidak tertulis ya bunda…aku suka membaca tulisan ini entah kenapa dari dulu aku merasa papa mamaku tidak pernah memaksa untuk belajar, jadi aku mau apapun pasti di dukung.

    Alhamdulillah sampai disini itu berkat mereka 🙂

    kangen deh sama bunda enny…ayo ketemuan kalo aku pulang kejakarta ya 😉

    Kapan mudik ke Jakarta? Mudah2an sempat ketemu ya..kapan tuh pas Ria ke Jakarta, saya pas lagi sibuk…

  16. bu, untung aku tidak pernah mempunyai target untuk Riku dan Kai. Kadang memang merasa sedih kok mereka belum bisa sesuatu, tapi saya selalu mengerem pikiran saya dan mengingatkan bahwa mereka itu prematur, apalagi Kai. Mereka pasti terlambat jika dibandingkan teman seumurannya. Tapi untung dokter2 di sini selalu menghitung umur ditambah umur kandungan, jadi kita bisa melihat grafik yang normal.

    EM

    Saya menulis, karena banyak juga yang baru saya tahu….
    Semoga anak-anak saya memahami bahwa orangtuanya tetap menyayangi mereka….

  17. ibu, postingan kali ini benar-benar bisa jadi bekal fety suatu saat nanti..

    Iya Fety, sayapun juga banyak yang baru tahu
    Dan sampai sekarang masih tetap belajar sebagai orangtua..

  18. pembelajaran luar biasa buat orang tua dan calon orang tua dalam memberikan perhatian utk seorang anak.

    Kalo saya melihatnya malah memang pergaulan lebih banyak menentukan arah masa depan seorang anak, ketimbang IQ yg dimiliki 😉

    Perkembangan anak memang ditentukan dari lingkungan, lingkungan keluarga, sekolah, teman main dll.

  19. Banyak pengalaman orang lain selalu dapat dijadikan pelajaran buat kita ya Bunda.. Terima kasih.. 🙂

    Betul mas Nug, kita bisa belajar dari pengalaman orang, teman di sekitar kita

  20. bagus banget.. ya memang kekurangan jgn slalu dianggap buruk.. cukup benahi, lalu justru dr situ kita berusaha mencari-cari mana letak kelebihan dan mana yang harus dikembangkan
    melihat dr pengalaman org lain jg bagus utk pembeljaran

    Kita memang harus belajar menerima kekurangan masing-masing dan melihat kelebihannya
    Namun..yang terutama adalah mau belajar bersama untuk perbaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s