Oleh: edratna | Desember 1, 2015

Sudah ikut Pelatihan, kenapa NPL tak turun?

Non Performing Loan atau Kredit bermasalah adalah kredit yang pengembaliannya tidak berjalan lancar. Hal ini sangat mempengaruhi kondisi kesehatan bank, karena bank harus membuat cadangan lebih besar. Saat ini,  bagi sebagian besar bank di Indonesia, aset kredit masih merupakan sumber utama pendapatan.  Apabila kredit bermasalah meningkat, maka penghapus bukuan juga akan meningkat, dan bila pencadangan sangat besar, akan mengurangi profit bank, yang pada gilirannya bisa mengurangi modal sehingga tingkat investasi dan inovasi menjadi terbatas. Bila terus berlanjut, akan mempengaruhi pertumbuhan bank yang bersangkutan.

Oleh karena itu, regulator memberikan aturan yang sangat ketat, agar bank memperhatikan tingkat NPL yang tidak boleh terlampaui. Dalam kondisi ekonomi yang melambat, dapat berpengaruh secara langsung terhadap perekonomian, dan akhirnya juga mempengaruhi pembayaran debitur kepada bank. Kredit bermasalah tidak datang tiba-tiba, oleh karena itu bank harus mengenali tanda-tanda peringatan dini, sehingga bank masih bisa melakukan langkah-langkah penyelamatan. Early Warning Signal atau EWS adalah mekanisme atau sistem deteksi/pengenalan terhadap gejala awal yang diperkirakan dapat mempengaruhi kemungkinan kegagalan debitur dalam membayar kewajibannya. Pada saat terjadi tanda penurunan, bank akan bekerjasama dengan debitur untuk melakukan restrukturisasi atau penyelamatan, agar usaha dapat berjalan kembali.

Pada saat pelatihan, peserta akan diberikan konsep, peraturan tentang restrukturisasi yang diperbolehkan oleh regulator. Di sini juga akan diberikan berbagai studi kasus, yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Akan lebih baik jika peserta pelatihan membawa studi kasus yang terjadi di lapangan sehingga bisa dibahas di kelas. Kenyataan nya tidak mudah, karena peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia/Otoritas Jasa Keuangan tidak semuanya bisa dilaksanakan di lapangan, karena terkendala oleh budaya masyarakat setempat, serta aturan di bank itu sendiri. Di satu sisi, peserta kadang tidak aktif, dan baru berani bertanya pada saat rehat kopi, entah karena malu, atau merasa pertanyaan nya terlalu sederhana, namun hal ini dapat menghambat pembelajaran. Kondisi ini akan memunculkan pertanyaan, kenapa setelah pelatihan, tidak dapat langsung diimplementasikan di lapangan dan NPL tetap tinggi?

Dari berbagai pengalaman mengajar selama ini, ternyata alasan mengapa hasil pelatihan tak dapat diimplementasikan di lapangan, antara lain sebagai berikut:

  • Kebijakan/Pedoman Restrukturisasi di bank yang bersangkutan belum dibuat, atau telah ada, namun masih banyak kelemahan nya. Contohnya, di salah satu bank, ternyata tidak ada kewenangan menghapus bunga. Padahal penghapusan di sini, bukan berarti debitur bebas tidak membayar bunga, namun hanya dari sisi pembukuan, dari yang sebelumnya on balance sheet menjadi off balance sheet. Dengan demikian debitur masih mempunyai kewajiban di bank. Tanpa adanya penghapusan bunga dan denda, maka kewajiban debitur makin bertumpuk, di sisi lain usahanya makin menurun, bahkan ada yang usahanya sudah tidak ada lagi.
  • Kurang/tidak ada  delegasi wewenang. Delegasi wewenang untuk membuat keputusan perlu dibuat, agar tidak semua keputusan harus diputus oleh Direksi, yang membuat keputusan lama dan saat diimplementasikan sudah terlambat. Namun, untuk memberikan delegasi wewenang kepada bawahan, maka bawahan harus mempunyai kompetensi yang cukup agar delegasi wewenang tersebut tidak malah menjadi tambahan masalah.
  • Latar belakang peserta yang heterogen. Staf yang ditempatkan di Divisi Penyelamatan, seharusnya adalah staf yang senior, dan telah mempunyai pengalaman sebagai Pengelola Kredit (Account Officer). Dengan demikian, staf tersebut bisa melakukan analisis dari berbagai sisi, untuk mendapatkan hasil yang terbaik bagi bank maupun debitur. Apabila staf masih junior, apalagi belum menguasai analisis keuangan, maka pembelajaran menjadi lebih lambat. Dan nantinya setelah kembali ke unit kerja masing-masing, staf tersebut tidak berani melakukan prakarsa atau negosiasi untuk menghasilkan sebuah proposal restrukturisasi.
  • Pelatihan yang rata-rata hanya tiga hari, tidak cukup untuk membuat setiap peserta langsung bisa menerapkan di lapangan. Diperlukan bimbingan dari pimpinan unit kerja, agar setelah di lapangan, apa yang diperoleh di kelas dapat diterapkan di lapangan.

Dari pengalaman saya, saat terjadi krisis ekonomi tahun 97/98, dimana banyak kredit bermasalah, diperlukan pendampingan dari bank yang telah berpengalaman dalam melakukan restrukturisasi. Pada saat pendampingan, staf bank yang bersangkutan didampingi oleh staf bank yang berpengalaman, untuk melakukan langkah-langkah penyelamatan. Bank juga harus membuat action plan utnuk masing-masing debitur nya, yang dimonitor paling lambat setiap minggu sekali. Memang melelahkan, dan dibutuhkan keputusan yang cepat serta kompetensi yang cukup, karena berkejaran dengan kondisi lingkungan yang selalu berubah.

Pada prinsipnya, Pelatihan hanyalah memberikan konsep dan berbagai studi kasus yang nantinya diimplementasikan di lapangan, sehingga dari hasil pelatihan tidak bisa serta merta dapat diterapkan di lapangan, karena harus dilihat apakah kebijakan (System Operating and Prtocedures) bank mendukung implementasi tersebut? Agar pelatihan berhasil, diperlukan bimbingan dari para senior, agar implementasi dilapangan sesuai dengan kebijakan yang ada di bank serta sesuai ketentuan regulator.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: