Oleh: edratna | Oktober 31, 2016

Mengunjungi Situs Megalitikum Gunung Padang

A678 plus di Gunung Padang.

A678 plus di Gunung Padang.

Keinginan untuk mengunjungi Situs Gunung Padang ini muncul sejak pemberitaan kontroversi tentang situs ini sekitar tahun 2013-2014 an di media. Namun ternyata tak mudah, selain berbagai saran teman yang terkadang menakutkan, yang katanya undakan nya tinggi sekali, serta berbagai cerita misteri lain, mencari teman yang sama-sama menyenangi naik bukit tidak mudah.

Tetapi kemudian, dengan saling mempengaruhi, saya dan beberapa teman menjadi terobsesi, sehingga salah satu sahabat yang selama ini memang senang berpetualang di wisata alam, mencoba mencari informasi. Dan setelah melalui beberapa kali dilakukan perombakan terhadap itenerary,  agar cocok untuk para nin-nin dan akung yang sudah  kena faktor “U” ini, maka perjalanan siap dilaksanakan. Alhamdulillah akhirnya ada 10 orang yang bersedia ikut.

Foto dan daftar dulu di pos pintu masuk Situs Gunung Padang.

Foto dan daftar dulu di pos pintu masuk Situs Gunung Padang.

Dari stasiun  Lampegan kami menuju ke situs Gunung Padang yang jaraknya sekitar 8 km, melalui perkebunan teh yang indah sekali. Kami akhirnya bernafas lega setelah bisa mencapai pintu gerbang situs, jadi foto dulu sebelum naik ke situs Gunung Padang yang terdiri dari lima teras dan teras berundaknya mencapai 701 tangga.

Tangga berundak menuju situs Gunung Padang

Tangga berundak menuju situs Gunung Padang

Luas kompleks utama situs ini sekitar 900 m2, terletak pada ketinggian 885 dpl, dan areal luas situs sekitar 3 hektar, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.

Lanskap dusun (kampung?) Gunung Padang, desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, sangat indah, terutama kampung Gunung Padang. Situs gunung Padang terletak di ketinggian bukit, dikelilingi lima gunung , lingkungan perbukitan hijau dan udaranya sangat segar.

Sumur Kahuripan.

Sumur Kahuripan.

Saat awal pendakian, kami melalui sumur Kahuripan, yang airnya sangat segar. Kami berjongkok mengelilingi mata air tersebut, Abah Abdi (pegawai Dinas Kebudayaan yang mengantar kami) memimpin doa agar rombongan nin akung ini selamat sampai ke puncak. Kami membasuh muka dengan mata air tersebut …. dan meminum airnya … segaarnya. Jangan-jangan ph nya 9 ya … badan segar dan siap mendaki.

Foto dulu sambil tarik nafas panjang.

Foto dulu sambil tarik nafas panjang.

Abah Abdi menemani naik undakan sambil mendongeng berbagai legenda di Kecamatan Campaka dan tentu saja legenda situs ini, diselingi berbagai sesi foto …… woo tahu-tahu kami sampai ke teras satu. Indahnya….

Teras satu

Teras satu

Batu tapak maung

Batu tapak maung

Abah Abdi meminta kami duduk-duduk dulu untuk melepaskan lelah, Abah mulai mendongeng lagi, kali ini tentang situs gunung Padang dan berbagai kontroversi serta misteri yang menyertainya.

Herannya kaki yang sebelumnya terasa pegal menjadi terasa enak, nafas teratur bahkan saya nyaris tertidur. Di situs ini ditemukan tapak maung pada batu, tapak kujang, juga lubang seperti pada permainan congklak di batu.

Tapak Kujang di batu

Tapak Kujang di batu

Ada area yang dibatasi batu menhir (batu berdiri) yang diatur menyerupai panggung, dengan batu datar sebagai tempat duduk, serta ada batu yang jika tangan kita memukul batu tersebut seperti memainkan musik … maka terdengar irama musik yang khas.

Batu berbunyi

Batu yang berbunyi

Jangan-jangan dulu ini merupakan situs pemujaan, atau tempat bertapa … dan apakah Prabu Siliwangi pernah ke sini? Diperkirakan situs ini telah berumur  jauh sebelum Masehi. Untuk menguak usia dan bentuk gunung Padang sendiri diperlukan sumber daya besar dan waktu lama.

Senang bisa mencapai gunung Padang (foto by Tinoek).

Senang bisa mencapai gunung Padang (foto by Tinoek).

 Situs Gunung Padang membuktikan adanya kemampuan teknologi hingga sosial budaya dari nenek moyang kita. Situs Gunung Padang ini dapat dijadikan destinasi wisata alam, sejarah dan ilmu pengetahuan.

Batu berpenampang segi 5 yang ditumpuk

Batu berpenampang segi 5 tidak beraturan, yang ditumpuk

Rupanya Abah Abdi memperhatikan tingkah laku rombongan kami …… maklum rombongan “over sixties“. Jadi setelah dirasa cukup, Abah Abdi mengajak kami naik ke teras 2, teras 3, teras 4 dan akhirnya teras 5 …. terlihat menara, saung untuk makan siang dan bercengkerama, serta bendera merah putih yang berkibar di puncak situs Gunung Padang.

Tim Lengkap A678 plus, bersama Olii dan Abah Abdi.

Tim Lengkap A678 plus, bersama Olii dan Abah Abdi.

Di kanan jalan undakan setapak, terlihat batu segi 5 yang ditumpuk menyerupai kayu jika terlihat di dalam foto. Herannya, batu-batu disini seperti dipotong-potong … mirip sosis raksasa …. dan semuanya segi 5 tak beraturan.

Senang akhirnya sampai di teras 5

Senang akhirnya sampai di teras 5.

Situs Gunung Padang ini dikelilingi oleh 5 gunung/bukit, antara lain: Gunung Kencana, Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Pangrango, gunung Melati… saya tidak pasti, karena hanya sayup-sayup mendengar cerita Abah (maklum terkantuk-kantuk setelah mendaki undakan ke teras satu). Saya mesti membaca dulu buku-buku tentang gunung Padang, yang masih penuh kontroversi ini.

Suami memberikan buku tulisan Ali Akbar, arkeolog dari Universitas Indonesia, tentang “Situs Gunung Padang, Misteri dan Arkeologi” yang sayangnya baru diberikan setelah saya selesai mendaki gunung Padang. Bukunya mengasyikkan, dan saya belum selesai membacanya, mudah2an nanti sempat membuat resensinya.

Setelah berfoto dengan satu- satunya pria yang ikut dalam rombongan, yaitu Uda Is duduk di Batu Korsi dikelilingi nin-nin yang masih ceria ini, kami menuju saung untuk makan nasi timbel lengkap dengan lauk pauknya di dalam besek.

Raja minyak dikelilingi bidadari baju merah di Gunung Padang.

Raja minyak dikelilingi bidadari baju merah di Gunung Padang.

Sungguh sedaap …….. perjalanan yang jauh, berolahraga menaiki undakan sampai 701 undak ….. saya makan sampai tandas, kecuali sambalnya (nggak berani makan sambal kalau dalam perjalanan, takut perutnya berontak).

Kebetulan Irawati bawa pepaya yang sudah diiris ….. manis sekali. Juga jeruk keprok pun terasa manis …. hehehe…. mungkin sudah sangat lapar ya.

Setelah istirahat, sekali lagi kami berfoto lengkap dengan Abah Abdi, berdoa dulu semoga perjalanan turun ke bawah, selamat ke tujuan. Kami turun pelan-pelan, lutut mulai deh terasa kalau sudah “faktor U”, namun kami tetap semangat. Mendung mulai menggelap ….

Ya Allah, semoga kami telah sampai dibawah saat hujan. Syukurlah, begitu kami sampai bawah, gerimis mulai turun. Saya langsung ke toilet, serta mengambil air wudhu untuk sholat Duhur dan sekaligus sholat Asar. Saya membeli gula aren yang terkenal enaknya, dan ternyata berat sekali, tapi kalau nggak membawa takut menyesal.

Begitu memasuki mobil, hujan turun dengan deras. Perjalanan terasa panjang karena tidak melalui jalan awal, namun pak sopir mencari jalan yang lebih dekat menuju Sukabumi. Beberapa kali salah jalan, masing-masing berdoa semoga mobilnya kuat melalui jalan yang berkelak-kelok dan jelek ini. Sampai Sukabumi sudah menjelang malam, hanya mampir ke salah satu tempat oleh-oleh. Saya membeli kaos untuk cucu dan mochi, rasanya belum ke Sukabumi kalau belum mochi. Namun karena perjalanan masih jauh dan hanya pakai ransel, nggak berani beli banyak.

Perjalanan ke Tanakita dilalui dengan diam, sebagian penumpang mulai tertidur…. syukurlah akhirnya kami sampai ke Tanakita sekitar jam 19.30 wib disambut hujan rintik-rintik dan cuaca yang dingin.

Cerita tentang camping di Tanakita, di tulisan selanjutnya.

Sumber info tentang Gunung Padang:

  1. EcoAdventurescape with Tinoek.
  2. Situs Gunung Padang, Misteri dan Arkeologi. Ali Akbar, Arkeolog. 2013. (bacanya baru sepintas).

Responses

  1. Waaa, baru hari Sabtu kemarin saya pergi ke situs Gunung Padang ini. Dan pulang-pulang saya jadi malah ngebayangin kalau orang-orang zaman purba kala dulu berkumpul di situs Gunung Padang ini🙂 Jadi terkagum-kagum sama teknologi orang zaman dulu ya, Bu🙂

    Pinkuona,
    Iyaaaa….kita jadi membayangkan nenek moyang kita ya….
    Dan Indonesia banyak sekali daerah menarik yang bisa dijelajahi ya.

  2. saya belum ke sana bu..
    haduh …coba gabung aja ya he..he…
    bukunya pak Ali Akbar juga jadi refernsi saya

    Hallo mbak Monda, lama nggak jumpa.
    Sebelum ke sana, lebih enak baca buku tentang Gunung Padang dulu, jadi pas ke sana kita lebih memahami.
    Tetapi kadang, kita ke sana karena bareng teman-teman…intinya bertamasya bersama teman sambil wisata sejarah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: