Para asisten di keluarga ku

Para asisten sangat dibutuhkan terutama untuk keluarga yang kedua suami isteri bekerja di luar rumah. Ayah ibuku keduanya menjadi guru, dan seingatku sejak kami kecil (saya sulung dari tiga bersaudara) selalu ada mbak yang momong kami, dan ada Yu Yem yang selain momong juga membantu memasak. Karena kedekatan kami, terutama adik bungsuku, jika yu Yem pulang ke kampung dia menangis ingin ikut. Jadilah adikku digendong ditenggok dan diajak pulang kekampungnya.

Saat yu Yem menikah, keluargaku berganti-ganti asisten, dan akhirnya ibu memutuskan bahwa anak2 cukup besar untuk mandiri (padahal saat itu saya baru masuk SMP dan adikku masih TK). Jika pulang sekolah dan dirumah belum ada orang, adikku main ke tetangga, makan dulu dirumah tetangga, setelah saya pulang sekolah baru dijemput. Memang tetangga kami seperti keluarga, dan rasanya kami dulu sangat bebas bermain dengan anak2 tetangga, dan bergantian tidur di rumah teman2.

Saat saya menikah, terpaksa harus punya asisten karena saya bekerja dari pagi dan kadang2 pulang malam hari, dan sering harus tugas keluar kota. Pulang bekerja, saya masih harus ikut kursus di LM FEUI, maklum karena latar belakang saya bukan ekonomi, saya harus menambah ilmu agar bisa mengikuti permasalahan yang ada di kantor. Para asisten ini sering berganti, keluar masuk, saya memahami mereka tak krasan karena bosnya banyak. Saat awal menikah masih ada adik2 yang ikut kami, yang tentu saja pemahamannya terhadap asisten berbeda, mereka menganggapnya sebagai pembantu yang bisa disuruh-suruh dan diperlakukan berbeda, padahal mereka manusia biasa juga.

Akhirnya saat saya sudah punya anak, saya menegaskan bahwa asisten hanya boleh disuruh oleh saya dan hanya bertugas momong bayi, sedang bagian bersih2 rumah dilakukan oleh asisten laki2 yang tugasnya merangkap membantu suami, sedang yang masak adalah adik2 yang ikut kami. Hal yang wajar menurut saya, bukankah sejak SMP saya tak punya asisten dirumah ibuku dan harus melakukan semuanya sendiri? Ternyata inipun sering kurang berjalan mulus, karena mereka menganggap saya mengistimewakan asisten, padahal saya tak punya pilihan lain.

Setelah anak kedua lahir, saya dan suami menganggap perlu mempunyai dua asisten, karena kalau hanya satu dan sewaktu-waktu mereka sakit atau mendadak ingin pulang, maka situasi bisa kacau karena pekerjaan saya juga tak bisa ditinggalkan (saat itu saya menjabat sebagai asisten manajer). Untuk membuat asisten betah, berlaku peraturan, bahwa gaji mereka terdiri dari: gaji bulanan, dan bonus. Bonus diperoleh jika pada bulan yang bersangkutan anak kami sehat walafiat sehingga tak perlu keluar uang ke dokter (kecuali untuk vaksinasi), dan jika saat ditimbang, berat badan anak kami bertambah (setiap ons pertambahan berat badan, mereka mendapat tambahan rupiah tertentu).

Ternyata dengan bonus memang membuat si mbak menjadi lebih rajin menyuapi, maklum anak saya keduanya sulit makan, jadi meningkatkan berat badan merupakan perjuangan yang sangat berat. Disamping itu mereka mendapat bonus satu kali gaji saat lebaran, uang transport pulang pergi, dan bila mereka pulang tepat waktu sesuai yang dijanjikan mereka akan mendapat tambahan setengah gaji. Jika lebaran ada ditempat, mendapat dua bulan gaji. Dengan meningkatnya umur anak-anak, aturan bonus berubah juga, mbak akan mendapat bonus jika raport anak saya mendapat ranking….ternyata ini berubah menjadi bumerang. Semakin besar anak, kegiatan semakin banyak, mereka tidak akan duduk belajar saja…sedangkan si mbak berpikir bahwa jika anak duduk belajar dia akan mendapat ranking satu. Akhirnya bonus ini kami cabut, diganti dengan sweetener yang lain.

Jika anak2 piknik bersama teman2 sekelas dan bapak/ibu guru, si mbak pemomong anak yang ikut menemani, jadilah si mbak sudah menjelajah Jawa Barat seperti: Puncak, Bandung, pantai Carita, Anyer, Karang Bolong dll. Jika liburan tiba,si mbak bergantian kami ajak berwisata, disamping kami berdua suami bisa santai, si mbak juga menikmati. Kalau pergi ke Dufan, si mbaklah yang bersemangat berkeliling mencoba segala macam permainan bersama anak-anak, dan saya berdua suami duduk2 sambil membaca buku. Maklum, saya sering migren dan takut ketinggian.

Pada saat anak sulung menjelang masuk SMP , kegiatan suami lebih banyak mengajar di Bandung (menjadi dosen), jadi saat libur giliran anak2 bersama si mbak disetor ke Bandung. Saya datang ke Bandung kalau hari Sabtu dan pulang hari Minggunya, kalau diperbolehkan cuti (cuti di bagian saya termasuk barang mewah, sering udah dapat cuti…begitu turun dari kereta api di Bandung…saya sudah ditilpon untuk balik lagi ke Jakarta karena besoknya ada rapat penting…wahh sedihnya…) maka kami akan berwisata ke Tangkuban Prau, Lembang dan sekitarnya. Saat anak2 agak besar, saat libur, terkadang si mbak mengajak main di taman Lalu Lintas Bandung sambil membawa bekal makanan sehari……disitulah kedua anakku bermain dari pagi sampai sore.

Saat anak2 harus ada latihan ekstra karena akan ikut konser dan lomba piano, si mbak lah yang menemani latihan, mengantar kursus, menyiapkan makanan dan membawa buku bacaan agar anak2 tak bosen. Mereka juga menemani anak2 untuk nonton film, atau antri karcis (saya pusing kalau lihat banyak orang), dan kemudian kami rame2 nonton filmnya. Bahkan ke dokter gigipun, si mbak lah yang menemani, karena kalau menunggu ibu, mereka akan pulang dari dokter gigi malam hari. Kebetulan dokter giginya adik temanku, sehingga anak2 dikompleksku berlangganan semua ke dokter gigi tersebut.

Hubungan dengan si mbak sangat akrab, saat putri bungsuku beranjak remaja, si mbak tetap sering menemani nonton film atau berjalan-jalan ke toko buku Gramedia. Namun sifat si mbak yang ikut keluargaku bermacam2 juga, ada yang bisa menikmati main bersama anakku, saat anakku ke toko buku, si mbak jalan2 di Mall atau ikut juga baca buku…maklum anakku bisa 5 jam di satu toko buku, dan…yang dibeli cuma satu buku karena yang lainnya udah dibaca di toko. Ada juga si mbak yang tak bisa menikmati jalan-jalan, sehingga si mbak ini lebih suka di rumah saja nonton TV dan yang menemani adalah mbak yang lainnya.

Kami selalu mengusahakan si mbak punya privacy, punya kamar sendiri, lengkap dengan tempat tidur bersprei, lemari, TV. Kalau sakit, biaya dokter ditanggung. Demikian juga kalau saya turne, yang diingat jika beli oleh2 selain untuk anakku juga si mbak. Begitu juga jika ada kesempatan keluar negeri, saya berusaha membelikan oleh2 yang menarik buat mereka. Oleh2 yang paling disenangi adalah T shirt, dan biasanya setelah ada pembagian, mereka ijin keluar rumah (entah ke warung atau kemana) dengan memakai kaos baru tsb untuk dipamerkan sesama temannya dikompleks kami. Mengharukan sekaligus juga membahagiakan.

Sekarang, setelah si mbak yang telah ikut lebih dari 10 tahun, menikah dan punya anak, mulailah kami mendapat kesulitan untuk mencari gantinya. Berganti-ganti asisten datang, tapi sulit mencari ganti seperti yang lama. Sedangkan asisten satunya telah naik kelas, karena dia telah disekolahkan, bisa menulis di komputer sehingga dapat membantu menuliskan paper2 (tentu dihitung bonus), dan menjadi sopir dikeluarga kami. Hebat kan?? Padahal dia wanita, tapi menyopirnya tak kalah dari pria, dan keluar kota telah menjadi santapan sehari-hari. Sekarang telah datang asisten baru, anaknya masih muda, penuh semangat untuk belajar hal-hal yang baru. Kadang2 saking semangatnya, apa yang dipegangnya menjadi patah…nggak apa2, ini memang proses pembelajaran. Saya memang tak pernah beli barang mahal, sehingga tidak menjadi masalah jika ada kerusakan barang, apalagi tanpa disengaja.

Dari sekian lama mempunyai asisten, akhirnya saya menyimpulkan bahwa:

  1. Perlu adanya take and give, antara majikan dan asistennya.
  2. Asisten hanyalah membantu, sehingga tanggung jawab tetap pada majikan. Mereka diperlukan karena tidak semua pekerjaan dapat dilakukan oleh majikan, karena majikan bekerja di luar rumah. Untuk itu perlu keterbukaan, sampai mana garis batas delegasi wewenang yang diberikan, sehingga tak terjadi kesalah pahaman. Setiap anggota keluarga yang ikut juga perlu diingatkan tentang hal ini, karena banyak asisten yang tidak krasan gara2 saudara dari majikan, yang menganggap mereka hanya sekadar pembantu.
  3. Imbalan yang memuaskan, dan tetap bedakan antara gaji pokok dan bonus, hal ini untuk merangsang berkinerja baik.
  4. Berikan hadiah jika mereka memang pantas menerimanya, misalkan: mengeroki atau memijat kita saat kita sakit, mengecat rambut (lumayan lho daripada ke salon), juga pekerjaan non rutin lainnya.
  5. Jika kita bepergian, berikan oleh2 yang akan membuat mereka merasa dianggap sebagai keluarga. Juga berikan privacy yang cukup, supaya mereka sempat istirahat. Aturan dikeluargaku, dilarang meminta tolong pembantu setelah jam 9 malam kecuali terpaksa, karena mereka perlu istirahat dan sudah harus bangun jam 4 pagi. Jika mereka sakit, bawalah ke dokter, dan berikan kesempatan istirahat tidur yang cukup, yakinlah mereka akan semakin menghargai kita.
  6. Jangan pelit mengucapkan terimakasih jika mereka telah melakukan hal2 yang baik.
  7. Ini yang paling sulit…buatlah mereka seperti anggota keluarga sendiri…berdasarkan pengalaman, mereka tetap akan mengerti batas2nya kok, bahkan anak2ku sering menganggap seperti kakaknya sendiri. Bayangkan kalau mereka punya masalah, mereka menangis pada mbak, baru nanti malam bisa ketemu dan cerita kepada ibu. Saya tak tahu apa jadiku keluargaku tanpa si mbak ini.
Iklan

13 pemikiran pada “Para asisten di keluarga ku

  1. Hohoho, ada juga to aturan bonus kaya gitu bu πŸ˜€ wah bisa jadi referensi nih. Ribet juga ya bu kalau suami istri kerja, harus pinter2 managenya.

    quote:
    “Karena kedekatan kami, terutama adik bungsuku, jika yu Yem pulang ke kampung dia menangis ingin ikut. Jadilah adikku digendong ditenggok dan diajak pulang kekampungnya”

    Ups, padhe joko bu πŸ˜€ hihihihi

  2. Saat tingkat akhir, saya sering bantu dosen buat Feasibility Study……disini juga dianalisis bagaimana agar kinerja para pekerja di perkebunan meningkat. Kalau cuma dihitung gaji, tidak mendorong kinerja, sehingga struktur upah harus dibagi: gaji, bonus, insentif.

    Jika para asisten ini cuma dinaikkan gajinya per tahun, tak ada korelasi positif antara kenaikan gaji dan peningkatan prestasi/kinerja. Dan kita harus pandai-pandai memilah bonus apa yg sebaiknya diberikan, karena bisa jadi bumerang. Anakku pernah ngamuk, gara2 si mbak menyuruh dia belajar terus (karena dipikirnya akan dapat rangking 1, yg bonusnya lebih gede dibanding rangking 2 dan 3). Bagi anak orang lain, yang balitanya doyan makan, tak perlu ditambah bonus berat badan….mungkin bonus jika sebulan itu tak sakit. Jadi pemberian bonus harus terukur.

  3. Andai para majikan bisa berlaku seperti anda mbak edratna, tentu tidak akan banyak mbak2 asisten yang disiksa oleh para majikan πŸ™‚ seperti yang banyak diceritakan di tipi2. Lah wong pada dasarnya mereka juga pegawai sama seperti pegawai2 di perusahaan yang tentunya juga punya hak2 selain kewajiban bekerja, cuma mereka bekerjanya tidak diperusahaan. Sedih rasanya jika mengetahui cerita2 ttg perlakuan majikan yang semena-mena terhadap asisten/pembantu baik dari mbak2 TKW diluar negeri maupun yg dari bekerja di dalam negeri. 😦

    Btw..boleh usul ngga ? Di halaman about sebaiknya tulisan asli dari wordpress (“This is an example of a WordPress page, you…bla bla ) sebaiknya di hapus dan diganti dengan komentar yg anda tulis di bawahnya itu.

  4. Heru,

    Hmm ya, apapun kita memang masih perlu bantuan mereka. Dan keberhasilan karir kita adalah dukungan orang2 disekitar kita, baik keluarga (suami/isteri, anak, asisten/si mbak) maupun oleh anak buah, peers dan atasan.

    Mereka juga manusia, yang wajib dihargai dan dihormati keberadaannya. Saya tak tahu, tanpa mereka anak2 saya tak bisa sekolah sampai di PTN, karir saya juga tak bisa mencapai seperti saat ini. Memang kita harus pandai-andai me manage mereka, seperti halnya kita mengelola anak buah, agar tercapai target yang ditentukan.

    Usulmu saya terima dan udah diperbaiki. Trims ya.

  5. Saat membuat mereka menjadi keluarga sendiri, kadang ada beberapa masalah saat menghadapi mereka yang ‘nglunjak’ dan tukang ngadu…
    Bisa-bisa anak sendiri yang dimarahi gara-gara aduan mereka 😦

  6. Ade,

    Memang diperlukan check and re check, dan harus selalu seimbang. Dalam bidang apapun, monitoring tetap diperlukan.

    Kita bisa hidup bersama, apabila antar penghuni mempunyai pemahaman yang sama, jika ternyata ada yang seperti dikatakan Ade, apa boleh buat memang harus diambil tindakan. Memberi kepercayaan terhadap orang lain juga harus bertahap (ingat learning curve :D), karena kita tak bisa memberikan delegasi wewenang jika orangnya tak kompeten.

    Dalam ilmu manajemen, gaya kepemimpinan disesuaikan dengan orang yang dipimpin dan situasi lingkungan, maka kita menggunakan gaya S4 pada orang yang layak dipercaya, tapi bagi pemula sebaiknya pake S1 atau S2.

  7. Papabon,

    Thanks.
    Saat anakku kena demam berdarah, si mbak ini pula yang bergantian dengan saya tidur di rumah sakit, sedang si mbak satunya bagian mengatur rumah. Tak terbayangkan jika saya harus menjaga anak sendirian, dengan mengganti popok 3-5 menit sekali, memberi minum air putih 10 menit sekali, bahkan untuk melakukan kegiatan sendiri pun harus selesai dalam rentang waktu 5 menit.

    Saya bersyukur mendapatkan asisten seperti mereka, karena saya termasuk keluarga kecil, adik2 semua bekerja (suami isteri). Dan mereka telah seperti keluarga, kalau kami pulang ke kampung suami, selalu menengok orangtuanya. Dan si mbak ini sekarang merangkap menjadi sopir, membantu suami mengetikkan naskah, mengatur menu…..

  8. Nggak apa-apa mas Luthfie, memang istilah tsb lebih halus daripada pembantu. Dan memang mereka seperti asisten kan?

    Mudah2an ketemu asisten yang cocok, yang nantinya bisa menjadi seperti keluarga sendiri.

  9. Tini

    Betul bu…. asisten lebih manis dari pembantu.

    Sama dengan ibu sayapun seringkali berganti asisten dan lulus apabila mereka menikah juga resign kalau sudah tidak betah.

    Susah juga memanage mereka apalagi kalau kita tinggal serumah dengan orang tua yang notabene ikut ngatur asisten. wah ….repot bu …ditambah pula ibu saya yang terlalu aktif berkomunikasi sehingga saya sering cuti … karena gak ada asisten…

    Alhamdulilah setelah 3 tahun berpisah dari orang tua agak lumayan si teteh betah dan sudah saya anggap seperti keluarga sendiri, saya senang, suami senang …. eh…si kakak jadi punya adik.

  10. Mbak Tini,

    Kalau kita menganggap asisten seperti keluarga sendiri pasti mereka akan betah, walau kadang kita juga marah kalau mereka berbuat kesalahan. Tapi mereka bisa membedakan, marah yang wajar dengan yang memang “galak”.

    Asisten saya yang baru berumur 15 tahun, walaupun “agak bego”…maklum masih baru, tetapi anak-anak sangat sayang kepadanya, apalagi setelah tahu dia anak bungsu dan ibunya meninggal saat dia masih kecil. Banyak sekali kelucuan yang terjadi, dan ini membuat rumah terasa segar karena kita ketawa melulu. Tapi saya kembali masak secara standar, karena tangan dia kuat sekali, gelas piring sering pecah, rice cooker rusak…jadi kembali memasak pake dandang…dan ternyata rasa nasinya lebih enak…hehehe

  11. cupanomiki

    Ibu, terima kasih ya atas pembelajarannya. Saya banyak belajar dari blog ibu, terutama bagaimana cara menyeimbangkan rumah dan pekerjaan. Tetap menulis ya, Bu, dan semoga Alloh selalu melimpahkan kebahagian dan ibu selalu sehat… *Arin*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s