Oleh: edratna | Januari 17, 2009

Menikmati nonton film sendirian

Saya tidak termasuk pecandu film, banyak film yang awalnya ingin ditonton, tapi nggak jadi nonton hanya gara-gara malas keluar rumah. Hal ini berbeda dengan si sulung, entah dia meniru siapa, dia benar-benar maniak film. Dan dia benar-benar menikmati film, bukan sekedar menikmati jalan ceritanya, tapi juga sampai menganalisis pencahayaan, skenario nya, serta membayangkan bagaimana film tersebut dibuat.

Saat si sulung masih SMA, suatu ketika dia ijin mau ketemu teman-temannya. Dia juga minta ijin untuk membawa kue, karena masing-masing yang hadir diwajibkan membawa buah tangan. Saya bertanya mau ketemu teman dimana? Dia menjawab di Pondok Indah, dan saat itu saya belum sadar dia mau ketemu siapa.

Besoknya dalam mengobrol, akhirnya si sulung cerita bahwa dia ketemu dengan kelompok Garin Nugroho, Marisya Haque dan lain-lain. Saya agak kaget, terus saya tanya, apakah ini pertama kalinya dia ketemu, kok dia nggak seperti baru ketemu selebriti. Ternyata diam-diam si sulung sudah sering diskusi dengan para sutradara, dan penulis skenario.

Gara-gara si sulung, saya menikmati menonton film dari sudut pandang lain. Kalau dulu hanya melihat jalan ceritanya, atau wajah keren pemainnya, sekarang mencoba untuk melihat hal-hal lain. Dan karena tahu si sulung menyukai film garapan Hanung Bramantya, saya hari ini mencoba nonton film garapan Hanung Bramantyo yang berjudul “Perempuan berkalung sorban” di Pondok Indah Mall, sendirian. Awalnya agak kagok juga, tapi setelah dipikir-pikir, lha kenapa mesti sungkan, kan kita juga nggak kenal yang lainnya. Saya akan mencoba menuliskannya, dan harap dicatat, ini bukan resensi film, tapi kesan-kesan saya atas film tersebut, maklum saya belum pernah menulis resensi film.

Adegan dalam film dibuka dengan Anissa yang sedang berlari mengendarai kuda putih di pinggir pantai, dengan ombak yang bergulung-gulung. Kemudian diceritakan bagaimana Anissa (bungsu dan perempuan satu-satunya), mempunyai dua orang kakak laki-laki, dibesarkan di sebuah pesantren tradisional (saya tak tahu apa masih ada ya pesantren seperti ini, dalam arti budaya kerjanya). Ayahnya adalah seorang Kyai, dan sebagai pemilik pesantren tersebut.

Disini dikisahkan bagaimana Anissa sejak kecil telah memberontak atas norma-norma yang dinilainya tidak adil, yang sangat membedakan antara perempuan dan laki-laki. Bahwa perempuan tak boleh naik kuda, juga tak perlu sekolah tinggi, dilarang menonton film, karena bisa kena pengaruh tidak baik. Secara diam-diam, Anissa diajari naik kuda oleh Liknya (pamannya), di pinggir pantai. Anissa sangat dekat dengan Liknya, karena Liknya (Khudori) berbeda dengan kakak lelakinya, yang mendorong Anissa untuk terus belajar agar nantinya bisa berbuat banyak bagi kaum nya. Namun kedekatan dengan Khudori tak bisa seterusnya, karena Khudori harus melanjutkan kuliah ke Cairo, sehingga Anissa tak punya teman untuk diskusi. Di Cairo, Khudori sering menulis surat dan mengirimkan buku, dikisahkan buku yang mempengaruhi Anissa adalah “Bumi Manusia” karangan Pramudya Ananta Toer, yang dikirim oleh Lik nya. Anissa sangat terkesan dengan karakter Nyai Ontosoroh.

Khudori lama tidak berkirim surat, karena galau dengan hatinya, dia tahu bahwa dia anak seorang sederhana dan tak sepadan dengan Anissa, walau masih sepupu dari ibunya Anissa. Pada saat Anissa begitu gembiranya karena diterima untuk melanjutkan kuliah di Yogya dengan beasiswa, ayahnya tidak menyetujui, karena tidak mungkin membiarkan Anissa tinggal di Yogya tanpa muhrimnya. Akhirnya Anissa dikawinkan dengan anak pemilik pesantren lain, yang dianggap oleh ayahnya, perkawinan ini akan meneguhkan pertautan antara dua pesantren.

Ternyata pernikahan Anissa tidak bahagia, Sam (suaminya) suka mabuk, suka memaksa, bahkan melakukan kekerasan secara fisik (KDRT). Disini akting Revalina S. Temat, yang bermain sebagai Anissa sangat bagus, bagaimana dia mengekspresikan pemberontakannya, walaupun akhirnya terpaksa kalah dengan budaya yang ketat, dan aturan sekelilingnya. Dalam kondisi rumah tangga tak bahagia seperti ini, datang seorang perempuan hamil yang mencari Sam, mengaku kalau telah hamil oleh Sam. Dan keluarga Sam membela anaknya, dengan alasan dalam Islam, seorang laki-laki boleh menikahi 4 perempuan jika bisa bersifat adil. Ternyata Sam tetap kasar, dan bahkan Anissa makin tersisih setelah isteri kedua Sam melahirkan anak, Anissa sering harus momong bayi isteri kedua Sam, pada saat Sam berhubungan dengan isteri keduanya.

Suatu ketika Anissa pergi menjenguk orangtuanya, karena ayahnya sakit, dan ketemu lagi dengan Khudori. Anissa yang sangat tertekan, mengajak Khudori melarikan diri dari pesantren bersamanya. Khudori berusaha menenangkan Anissa. Sayang, ternyata Sam yang menemukan surat Khudori menyusul ke pesantren Al Huda (pesantren milik ayah Anissa), dan menemui kedua orang ini. Kedua orang ini (Anissa dan Khudori ditarik keluar), dan akan dirajam dengan lemparan batu. Batu-batu mulai beterbangan, untuk kali ini ibu Anissa (dimainkan dengan bagus oleh Widyawati) berani berteriak, dan mengatakan siapapun boleh merajam kedua sejoli itu asalkan yakin tidak punya dosa, ternyata tak satupun orang berani mengakui tak punya dosa, termasuk ayah Anissa. Karena shock, ayah Anissa meninggal.

Anissa akhirnya pergi ke Yogya, menemui temannya saat di pesantren, yang meneruskan kuliah di Yogya. Disini Anissa akhirnya bisa berjuang hidup, dengan menulis, sekolah lagi (tak dijelaskan sekolah dimana), dan akhirnya ketemu Khudori yang telah bekerja di Yogya. Anissa bekerja di lembaga yang menangani konsultasi kaum perempuan, yang mengalami kekerasan dalam rumah tangganya. Pada akhirnya Anissa dan Khudori menikah. Disini diceritakan bagaimana setiap kali Anissa masih trauma pada saat Khudori mendekatinya, yang akan mengingatkan dia saat dipaksa oleh mantan suami pertama nya.

Karena mempunyai kelainan pada kandungannya, dokter menyarankan Anissa istirahat yang cukup, agar bayinya lahir selamat. Anissa dan Khudori kembali ke pesantren. Anissa mencoba memperkenalkan anak didik pesantren, khususnya santriwati, dengan buku-buku yang dikirim dari Yogya, namun kakak dan pengurus pesantren lain tidak menyukai ide tersebut. Kemudian Sam datang menagih uang kepada kedua kakak Anissa, disini Anissa kaget karena baru tahu bahwa uang untuk membangun pesntren adalah pinjaman dari Sam.

Anissa sangat marah, dan merasa nggak nyaman lagi tinggal di pesantren. Dia mengajak Khudori kembali ke Yogya, yang sayangnya Khudori kecelakaan saat dalam perjalanan mau pesan tiket. Bagaimana perjuangan Anissa untuk membuat anak perempuan tetap menjadi seorang muslimah, bersikap santun sebagai calon ibu, namun memperoleh kebebasan, merupakan hal yang sangat menarik.

Sebagaimana dalam film Ayat-ayat Cinta, saya tertarik dengan cara Hanung mengeksekusi akhir ceritanya. Disini diceritakan bahwa akhirnya Anissa dapat membangun perpustakaan yang diimpikannya, namun Anissa sendiri mulai lebih baik dalam cara meyakinkan kakak dan pengurus lain, sehingga akhirnya secara pelan mereka mau memahami perjuangan Anissa. Sebagaimana yang pernah dikatakan Khudori, merubah pandangan orang harus bertahap, ibaratnya seperti membangun rumah. Hanung tidak membuat perubahan itu mendadak menjadi sebuah pesantren yang modern, tapi secara bertahap, paling tidak santriwati telah memperoleh kebebasan dalam berpendapat.

Saya belum pernah membaca buku aslinya, sehingga tak bisa membandingkan, namun menurut saya film ini menarik untuk ditonton.

Iklan

Responses

  1. hoho. tadi siang aku diajak kawan nonton film ini. sayang badan masih kurang enak rasanya.

    v(^_^)

    sbtlnya aku lbh suka nntn film fiksi ilmiah. tp film2 spt film yg ibu ceritakan ini sllu membuatku penasaran. mski stlh nntn bkl menyesal krna emosi terlalu dalam teraduk.

    Farijs van Java,
    Saya akui, lebih banyak film Barat yang kutonton dibanding film Indonesia, tapi jika ada film Indonesia yang bagus, saya berusaha untuk menontonnya, walau terpaksa menonton sendiri setelah si sulung pergi, kawatir jika harus menunggu si bungsu, filmnya keburu tak ada di bioskop.

    Film PBS juga membuat emosi teraduk, terutama untuk kaum perempuan saat adegan KDRT…..kadang jadi sebel juga, kenapa banyak perempuan yang tak bisa keluar dari KDRT ini hanya karena takut menyandang cap sebagai janda.

  2. wah….aku jg maw nnton ah bu

    Cutemom cantik,
    Film ini lumayan mengaduk emosi, tapi yang saya suka, tokohnya tegar. Saya paling tidak suka jika ada film, yang tokohnya (terutama jika tokohnya perempuan) sedih dan berlarut-larut, karena hidup di dunia ini memang sulit, dan kita harus berjuang untuk mencapai apa yang kita inginkan. Walau perjuangan itu tak bisa drastis, karena kadang menyangkut orang-orang yang kita cintai.

  3. Ntar kalo ada waktu dan sangu nonton juga. Trims bocoran jalan ceritanya film itu.

    Alris,
    Filmnya jauh lebih baik, yang saya ceritakan juga belum detail. Karena tentu saja, saya bukan ahli cerita, dan belum pernah membuat resensi film.
    Menurutku film ini jauh lebih baik dibanding AAC (Ayat-ayat Cinta), dan ada ketegaran dan kekuatan untuk berjuang disitu.

  4. wah bunda enggak ngajak2 sih
    tapi patut di tonton tuh bunda
    terima kasih informasinya 😀

    Gelandangan,
    Penginnya nonton tuh ada teman, tapi mau bagaimana lagi, suami dan si bungsu di Bandung, sedang si sulung dengan isterinya jauh di negeri orang. Kemarin nontonnya memang “agak maksa”, agar bisa cerita kepada si sulung, karena dia penggemar film, dan film Indoneisa kan nggak diputar di negeri nya paman Sam sana.

  5. Seratus delapan puluh derajat berbeda yah dengan Ayat-Ayat Cinta? 😛

    Kunderemp,
    Yak betul, dan ibu lebih suka. Di AAC kan cuma masalah cinta (entah kenapa walau orang suka, tapi ibu tak terlalu suka pada cinta yang sampai setengah mati ini….hidup hanya untuk cinta, antara perempuan dan lelaki), apalagi sampai sakit. Dhh…duhh…padahal banyak hal yang bisa kita perbuat di dunia ini.

    Dalam PBS, cinta digambarkan dengan perngorbanan dan perjuangan, dengan tokoh wanita yang tegar, yang tak pernah menyerah, untuk memperjuangkan pembebasan hati dan pikiran kaum perempuan dilingkungannya. Awalnya agak sebel juga, saat adegan KDRT, dikira akan berlarut-larut disitu, tapi kembali Hanung dengan keahliannya pandai mengubah dan membuat jalan cerita menjadi nyaman, dan dia juga hati-hati, sehingga akhirnya film ini endingnya tidak menjadi bahan pertentangan antara kaum lelaki dan perempuan, juga dari sisi Islam.

  6. Kalau Ayat-Ayat cinta udah, tapi kalau Perempuan berkalung sorban belum, denger cerita bunda jadi nggak sabar pengen nontonnya… 🙂

    Bujanglahat,
    PBS memang baru main tanggal 15 Januari di Jakarta.

  7. wah, saya belum liat filemnya. tapi bukunya udah lama saya libas. sepertinya beda?!
    abidah emang masternya isu gender begini.

    Tan,
    Hmm saya tak bisa membandingkan, karena nggak baca bukunya

  8. heheh kalau saya sih sudah pasti tidak akan pergi nonton sendirian bu. Wong berdua aja belum tentu hehehe
    EM

    Ikkyu_san,
    Saya bisa membayangkan, apalagi masih punya anak kecil. Dulu saya suka menonton bersama anak-anak jika ada film anak yang sesuai (saat mereka sudah bisa menikmati nonton film di bioskop). Nonton di bioskop berbeda, karena situasinya, juga mereka menjadi kenal dengan anak-anak lain. Saya pernah menulis disini, tentang keuntungan menonton film bersama anak di gedung bioskop.

    Setelah si sulung besar, saya berusaha dekat dengannya, dan agar bisa komunikasi, saya suka nonton bareng. Dan kadang, walau sama-sama ke gedung bioskop, yang ditonton beda, terutama kalau dia mau nonton film semacam perang atau film yang mendebarkan lain. Jika ada si bungsu, masih lumayan, saya nonton film A dengan si bungsu dan si sulung nonton film lainnya.Tapi sekalinya dia menemani nonton ibu, tentang film romantis (A walk to remember), dia jadi bulan2an ledekan temannya.

    Jadi, sebetulnya nonton bersama anak, merupakan sarana komunikasi buatku, sama seperti nongkrongi mereka main piano, dan konser di mana-mana saat mereka kecil (walau saya tak bisa main piano).

  9. wah…kalo saya malah lebih suka nonton film di dvd atau tivi mbak…
    btw saya link di blog ku yah mbak..:)

    salam,

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com

    Bonar,
    Sebetulnya saya tak maniak film, bahkan di TV atau DVD sekalipun (seperti yang saya ceritakan di atas).
    Tapi karena anakku senang dengan hal yang terkait dengan perfilm an, dan sekarang lagi diseberang benua, dia tak mungkin bisa menonton film ini, terutama film yang disutradarai Hanung. Jadi saya menonton, agar bisa cerita padanya, dan daripada ditulis lewat email, kenapa nggak di blog sekalian, sekaligus mencoba menulis tentang film.

  10. sebelumnya saya tidak tertarik nonton. tapi baca tulisan ini jadi pengen nonton ah

    Utaminingtyazzz,
    Cobalah untuk menontonnya, apalagi ini film Indonesia. Saya juga nggak menonton semua film Indonesia, tapi tergantung dari cerita dan siapa sutradaranya. Yang horor, mendingan enggak deh, walau dibayari.

  11. Nonton sendirian sih sudah biasa, Bu. Lebih bebas dan leluasa. Cuma kalau ketawa, ketawa sendiri. Kalau sedih, waduh, sendirian juga…

    Lha tolah-toleh, yang lain pada pasang-pasangan 😀

    Daniel Mahendra,
    Ternyata banyak juga kaum perempuan yang menonton sendirian, kalau pria kayaknya udah biasa deh. Dan penonton kita kan suka nyeletuk, jadi suka senyum sendiri…saat ada adegan tertentu yang menggambarkan trauma…ada yang nyeletuk..”Wahh kasihan ya, dia trauma.”

    Saya geli, lha ini film kok….tapi ada adegan yang nyaris saya menitikkan air mata, padahal biasanya saya sangat rasional dalam menonton, akibatnya adegan lawakpun, jarang ketawa.

  12. mmmm nanti tak coba nonton deh…di PKU udah main blom ya? hehehehehe

    Ria,
    PKU? Nama gedung bioskop di Riau?

  13. Mohon ijin numpang komentar:
    Aku juga punya pengalaman unik mengenai filem, setelah tamat kuiah di yogya, aku kerja di jakarta dan jumpa kembali dengan sepupuku yang kuliah jurusan sinematografi LPKJ. Aku sering diajak nemani nonton di berbagai galeri dan pusat kebudayaan (bukan bioskop) dan layarnya juga kadang-kadang cuma 2 x 2 m, tapi penontonnya banyak. Karcisnya ya bayar juga. Filem-filem ini sangat bermutu dan bermuatan budaya, humanis dan filosofis, terutama filem dari eropa timur dan amerika latin tentang pertentangan antar kelas perjuangan menuju kemerdekaan dari perbudakan. Alhasil aku akhirnya menjadi merasa hambar dengan filem komersial, terutama produk dalam negeri, kendatipun kata orang banyak filem bagus seperti perempuan berkalung sorban atau laskar pelangi. Mungkin sendirian menonton filem ada nikmatnya juga, yakni ketika kita menjadi pengamat, bukan pengamat filem tapi pengamat penonton. Terima kasih ya bu.

    Sony
    ,
    Menonton film kan mirip membaca buku, selera setiap orang berbeda. Seleraku dengan anak sulung berbeda, maka kadang walau berangkat sama-sama, di gedung bioskop film yang ditonton berbeda.
    Film yang saya tonton ini, sutradaranya dikenal anakku, dan karena dia lagi tinggal di Amerika, saya berusaha menuliskannya disini (ini pertama kalinya menulis cerita film), agar dia bisa membayangkan.

  14. Aku nggak pernah nonton film di bioskop sendirian, Bunda… Belum pernah berani, walaupun sudah merasa kok ini perasaan ketakutan yang nggak penting banget…

    Tapi so far, belum pernah nonton sendirian bukan karena nggak berani, tapi emang lagi hobi nonton DVD di laptop… Lebih private dan bisa di-pause sewaktu-waktu kalau pingin pipis… hehehe….

    (lagi pingin nonton film Pintu Terlarang, Bunda.. yang thriller itu lho… tapi kalau nekat nonton sendirian, bisa-bisa aku bakal memeluk ‘tetangga’ sebelah saking takutnya.. hahahaha…. — mudah-mudahan ganteng, euy… hihi)

    Lala,
    Sebagaimana makan sendirian di Cafe, sebetulnya menonton film juga sama….sekarang banyak kok cewek nonton sendirian. Tapi tetap lebih enak kalau ada temannya…lha daripada menunggu si bungsu, lha dia sekarang mulai kerja sambil menulis thesis, jadi pasti makin sibuk. Saya sendiri kegiatan di Jakarta lagi banyak.

    Dan sutradara film tsb fans nya si sulung…

  15. hmmmmm…kebetulan aku ga suka nonton film…ahh cuma sekali ajah liat film “catatan si boy”… bagus juga ….salammmm

    Mrpall,
    Salam balik..

  16. Sudah sejak dulu saya terbiasa nonton bioskop sendirian. Tapi belakangan, jarang nonton di bioskop, karena belum ada film yang cocok.
    Kalo film Indonesia mah ditunggu sebentar, nanti sudah diputar di tivi, hehe

    Dony Alfan,
    Hmm ..iya sih, tapi sebetulnya perlu dijaga jarak antara mulai ditayangkan film di bioskop dengan di TV, agar kita juga makin mencintai film Indonesia, tentu yang mutunya bagus.

  17. […] Menikmati nonton film sendirian Saya tidak termasuk pecandu film, banyak film yang awalnya ingin ditonton, tapi nggak jadi nonton hanya gara-gara malas […] […]

  18. btw, kenapa Hanung sekarang relatif suka buat film background ‘islam’ ya. mungkin ‘dekat’ dengan Saskya Mecca juga kah? hehe

    hm..nanti setelah tanggal 1 masih ada di bioskop ga ya? 😀

    Trian
    ,
    Jawabannya mesti ditanya pada Hanung.
    Kayaknya sih kalau di Bandung masih….

  19. kemarin aku benernya hampir nonton film sendirian. suami pengennya nonton “redcliff”, sedangkan aku pengen nonton “burn after reading”. tapi ternyata dia akhirnya milih nonton “burn after reading” juga. tapi karena masih penasaran, hari ini dia berencana nonton “redcliff” pulang kantor :p

    Krismariana,
    Hehehe…suami yang baik…

  20. aku juga film-mania tuh mabak walau kebanyakan film-film barat. Kalo ada film Indonesia bagus pasti aku uga nonton. Tapi sekarang jarang nonton sih,,maklum dah punya anak istri jadi gaka ada waktu…sibuk ngurusi keluarga. Palagi istri bukan penggemar film
    “lam kenal semuanya….

    Jokky
    ,
    Biasanya saya nonton sama anak sulungku…
    Suami juga ga ada waktu untuk menonton…

  21. Klo saya lebih suka nonton film di VCD biar bisa di-rewind :mrgreen: terutama utk adegan2 pertarungan seru.
    Anyway, terkait bahwa merubah pandangan orang harus bertahap, ibaratnya seperti membangun rumah, memang menarik. tantangannya adalah kita harus tau dulu bagian rumah yg mana dulu yg hendak digarap. Ketika urusannya dg orang, seringkali ndak mudah untuk menentukan itu.

    Akhmad Guntar,
    hehehe….
    Merubah pandangan ibarat mendirikan rumah secara bertahap itu saya quote dari kata-kata yang diomongkan tokoh di film PBS tersebut. Lha kan cerita tentang film….

    Dan sepertimu, saya juga setuju. Kita mesti analisis dulu masalahnya, bagian rumah mana yang perlu dibetulkan, kemudian diagnosanya apa…diperbaiki bertahap (dari mana yang paling prioritas, karena akan mengganggu jika tak segera diperbaiki), dan mana yang bisa ditunda dsb nya.

  22. btw, bu Krismariana, red cliff itu bagus banget lho, yg satu maupun yg dua. istri saya aja suka, soalnya itu emosional banget, bukan melulu perkelahian. sebaiknya ibu ikut nonton aja 😉

    Akhmad Guntar,
    Ini ditujukan untuk Krismariana kan, jadi saya ga jawab….

  23. Saya tak tahu, apakah nanti kalau misalnya menonton film ini, apakah filmnya seindah cerita Ibu? Rasanya Ibu menceritakan dengan indah. 🙂

    Menonton sendiri? Mengapa tidak? Terkadang, film yang dipilih berbeda, dengan pilihan teman atau partner nonton. Daripada ada yang mesti mengalah, atau menemani tapi tertidur (meski yang menemani dan tidur itu yang mentraktir nonton), atau menggerutu dalam hati karena udah bayar sendiri-sendiri tapi nggak bisa menikmati, lebih baik nonton sendiri.

    Lagipula ada beberapa film yang tak bisa ditonton ramai-ramai dengan teman, karena perbedaan selera tadi, dan karena lebih enak menonton tanpa diusik.

    Tapi beberapa genre film tertentu, akan saya tonton ramai-ramai dengan teman. Karena, setelah nonton kan asyik bisa review bareng-bareng, apalagi kalau dibawa becanda, menyenangkan.

    Sempat terpikir setelah diwajibkan menonton film G30S PKI jaman sekolah dulu, saya bakal tak pernah nonton rame-rame lagi, dimana saya mengenal hampir seluruh penontonnya.

    Ternyata nggak juga, pas kerja, kadang, kami sekantor mulai dari direktur sampai bapak-bapak driver, pergi nonton sama-sama, serunya hanya pas menunggu film, karena pas filmnya udah main, ya masing-masing kan banyak diamnya, tak pakai acara ngobrol lagi, jadi sama saja sebetulnya dengan nonton dengan orang asing dan nonton sendiri. 🙂

    Yoga,
    Apakah filmnya indah jika ditonton oleh Yoga? Sangat tergantung pada selera. Bagi seseorang yang suka drama, mungkin menangis karena melihat film menyenangkan, tapi mungkin bagi orang lain cengeng. Saya suka drama, asal pemain utamanya tangguh, kalau cengeng saya nggak suka……soalnya ngga memotivasi …

  24. menikmati film memang harus dari berbagai sisi, agar tidak hanya dinikmati, tapi juga diselami.

    saya dari dulu pengen bisa diskusi dan terlibat sama hal2 yang seperti itu tapi koq ya ga bisa ya?

    Billy Koesoemadinata,
    Dulu anak sulungku (waktu masih di Indonesia) senang berdiskusi dengan para pekerja film, dari para pembuat skenario, sutradara, dan lain-lain. Ini bukan bidangku, tapi agar saya bisa memahami anak, saya juga mencoba memahami apa yang disenanginya…bahkan anakku sempat tercetus ingin jadi pekerja film…entah sekarang, karena sekarang dia ingin melanjutkan kuliah, dan menemani isterinya di AS.

  25. Saya baru selesai baca buku2 Pram malah setelah beliau meninggal.

    Setelah baca Panggil Aku Kartini Saja dan Bumi Manusia yang juga menginspirasi Annisa untuk menjadi perempuan tegar dalam memperjuangkan hak2nya dan mengubah pola pikir zamannya, saya menjadi bersyukur dilahirkan dan hidup di zaman informasi serta keberimbangan peran gender seperti sekarang.

    Kalo membayangkan hidup di zaman Kartini atau Nyai Ontosoroh, mungkin saya sudah terkena gangguan psikologis berupa neurotik – seperti yang dialami wanita2 Eropa abad 18 – karena jiwa ribellius saya yang besar tapi tidak tersalurkan. hehe

    Sanggita,
    Dulu ayah saya punya bukunya Pram, sejak “Keluarga Gerilya” dan lain-lain. Saat mahasiswa saya beli “Bumi Manusia”, sebelum sempat dilarang. Terus sempat beli “Gadis Pantai”…entah suatu ketika mungkin pengin baca lagi koleksi bukunya Pram,…tapi saya belakangan ini saya memang cenderung suka buku yang membuat lebih tertantang. Bukunya Pram perlu pemikiran, dan “agak sedih”…menurutku lho (ntar aku diomeli DM dan DV yang pencinta Pram).

  26. kalo aku suka nonton sendiri, kalo berdua gak jadi nonton filmnya 😀
    Hamka,
    Lebih suka sendiri???

  27. Kebayang… Kebayang bagusnya apalagi si Hanung yang bikin dan ah…. Ada pramoedya yang jadi salah satu referensi tokohnya!

    DV,
    Memang kata-kata dalam bukunya Pram seringkali di qoute dalam film ini…

  28. kalo aku nonton pasti rame-rame buk…minimal 10 orang…biasalah kalo gak rame kagak asyikkkkkkk

    Imoe
    ,
    Memang lebih asyik kalau rame-rame…tapi daripada tunggu2an…

  29. Ketika masih di Surabaya, saya selalu menonton film sendirian dan bahkan makan malam setelah menonton sendirian. Banyak teman berkomentar kok berani sih.. 🙂 kalau nonton sendirian atau makan direstoran sendirian saya mah berani yang takut kalau harus kekuburan sendirian.. 🙂

    Sepertinya filmnya menarik sekali Bunda, sayang disini saya hanya nonton film Holywood, ga ada film seperti itu. Thanks sudah share tentang film ini Bunda. Terimakasih

    Yulism,
    Betul…kenapa nggak berani, lha wong kita nggak niat apa-apa. Apalagi saya memang sering tugas sendirian, lha waktunya makan ya makan sendirian, mosok ajak orang yang tak dikenal.
    Menikmati nonton sendiri, dan ternyata mengasyikkan bisa dicoba lagi lain kali…pulangnya mampir di Cade Oh ala, menyeruput cofee latte dan croisant.

  30. bunda…met malem…
    aku mampir mo nyapa and ngaish senyum ^_^

    met istirahat bunda….*iseng mode on*

    Ria,
    Makasih….

  31. Wah, sama. Saya selalu menikmati film dengan cara yg berbeda. Melihat screen picturenya, dialognya, efeknya dan lain-lain. Yang kebayang selalu ‘the making’ nya.

    Hehehe… Salam kenal.

    Sunardi,
    Salam kenal….
    Hmm saya sekarang juga mencoba memahami dari sudut pandang itu…

  32. Saya juga sebenarnya seseorang yang penikmat film. Tetapi entah kenapa kalau nonton sendirian di bioskop rasanya kok kurang betah begitu. Kecuali mungkin jikalau ada film yang ingin saya tonton dan tidak ada teman ada yang mau nonton film tersebut baru deh saya mau nonton sendirian **barangkali**

    Saya dulu juga punya teman yang suka nonton sendirian. Tapi orangnya memang nggak punya teman, entah kenapa, mungkin karena ia merasa gagal atau mungkin karena ia merasa sok untuk menutupi kegagalannya sehingga dia tidak disukai oleh teman2nya sendiri……… Kalau ingat itu suka sedih dan kasihan juga…. 😦

    Yari NK,
    Mungkin temannya memang pendiam kang. Menonton sebetulnya tetap asyik jika ada temannya….si sulung itu saking maniaknya film, nyaris setiap film ditonton, jadi ya lebih banyak nonton sendiri, saya sering males karena capek untuk setiap kali menemani, tapi setelah dia kerja ya tetap terbatas waktunya.

  33. Waduh…. komen saya ditelan Akismet nih? 😦

    Yari NK,
    Tenang…udah dibetulkan kok…

  34. saya nonton wonderpets dulu. nanti kalo udah ada downloadan nya di internet baru nonton filmnya hanung, hehehe

    Iwan Awaludin,
    Nggak nyampe ke Malaysia ya pak?

  35. waktu saya di teater film pikiran saya juga sama dengan si sulung, yang dipelajari lebih ke arah teknik film itu dibuat, bukan hasilnya, mana kurangnya mana nyang cahayanya jelek. Yang di lihat itu. Kalau filmnya banyak jeleknya saya males nonton lagi. kalau filmnya bagusm sedikit cacatnya, saya besoknya nonton lagi, lagi dan lagi, sayangnya bun saya nggak sampaian duduk sebagai sutradara film. Nasib nasib!!

    Btw saya jadi pengen nonton film juga, secara bioskop di sini kecil nggak ada yang sekelas megaplex. 😦

    Pakde,
    Kok sama sih sama si sulung, dia bisa nonton berkali-kali kalau suka. Saat “The Dark Knight” dia betul-betul menunggu film itu, dan menonton sendirian…kemudian nonton lagi sambil menemani ibu, dan setiap kali nyuruh ibu merem jika dirasa ada adegan yang menyeramkan…hahaha…kok jadi dia yang seperti orangtua ya…

    Pakde sekarang kan sutradara radio, siapa tahu nanti merambah ke film…banyak kan yang seperti itu?

  36. saya malas nonton…hihihi tapi tertarik juga buat baca bukunya nih kalo ada

    Omiyan
    ,
    Setahuku, film Indonesia yang lumayan bagus, selalu dijual bukunya, berupa skenario filmnya. Dan jika seperti AAC dan PBS, bukankah malah bukunya ada lebih dulu? Lihat aja di Gramed, banyak kok dijual bukunya

  37. Proporsi saya nonton di bioskop kyknya banyakan waktu masih umur 10 tahun dibanding sekarang bu hehe.. ortu emang doyan nonton ..hehe

    Teguhjunanto,
    Sekarang sudah sibuk ya…?

  38. Dulu saya itu penggila nonton film. Mulai dari misbar, bioskop sampai 21 dicoba semua. Waktu lagi edan2nya kadang ada beberapa film yang ditonton dua atau tiga kali dan semuanya nonton di tempat yang sama…hehehe! Yang saya masih ingat filmnya ditonton dua kali adalah Out of Africa, The Untouchable, dan serialnya Indiana Jones. Sekarang sudah ber-tahun2 gak pernah nonton di bioskop. Nginjak yang namanya Megablitz juga belum pernah. Sekarang paling nonton film di TV aja, sambil leyeh2 biar ngantuk. Kalau mau serius nonton sepak bola…:)
    Resensinya bagus bu Enny! kalau diceritain duluan malah gak mau nonton…hihihi…dasar ya!

    Elyani,
    Atau malah pengin nonton?
    Saya juga hanya kadang-kadang nonton, kalau ada waktu, dan tak sibuk…

  39. gak papa kok, aku juga sering nonton sendiri 😀

    Krishna,
    Memang nggak apa-apa, tapi tetap enak ada temannya…

  40. Aku bukan penggemar nonton film. Kecuali ada referensi seseorang yang bisa meyakinkanku film itu layak ditonton.
    Well…
    *mulai kepikiran bajakan* 😳

    Puak,
    Aduhh kalau film Indonesia jangan cari bajakan dong, cintailah produk dalam negerimu…

  41. kira2 brapa bintang utk film ini bunda? trahir sy k bioskop nonton laskar pelangi… setelah sekian tahun tdk nonton di bskop…

    Fahri Asyifa,
    Bintangnya? Maksudnya rating? Wahh nggak tahu….saya kalau nonton karena lihat siapa siutradaranya atau siapa bintang filmnya.

  42. Wah, saya belum sempat nonton flm ini Mbak Enny. Nggak tahu juga, sudah diputar di Yogya apa belum.
    Btw, saya terbiasa pergi kemana pun sendirian, tapi kalau nonton film ke bioskop sendirian, weww …. kok masih merasa kagok ya? Tapi perlu juga dicoba ….

    Saya hobby nonton film, tapi film yang bagus-bagus saja. Kalau disuruh nonton film macam jailakung atau film-film horor yang akhir-akhir ini marak, aduh …. no, thank you!

    Tutinonka,
    Film horor? Biar dibayari sih ogah.
    Saya nonton film melihat sutradara nya siapa, dan siapa pemainnya…kalau cuma model cengeng2an juga nggak suka

  43. Waduh Bunda koq, nonton sendirian?? ga nelpon retie aja sich tau gitu khan aku temenin 🙂

    Aku kalo nonton ma suamiku ga bisa milih, dia sukanya action, aku suka drama tapi kadang ya suka action juga hehehe kalo kepaksa 🙂

    Ijin,aku ikutan panggil Bunda ahh,boleh khan??

    Retie,
    Waduhh kalau nonton sama aku, kasihan suamimu dong, ntar dia nontonnya sama siapa? Walau selera beda, kan bisa menonton masing-masing, ntar ketemu lagi usai bubaran film, dan terus mampir di Cafe…kan asyik..

  44. apa pun sebutan untuk tulisan terhadap film ini, tetap menarik untuk disimak, bu. saya jadi merasa tak perlu menontonnya lagi. hehe.

    saya doyan nonton film, dan sejak kuliah sering menonton sendirian di bioskop. mulanya ibu saya kuatir, masak anak perempuan nonton di bioskop sendirian, tapi lama-lama jadi ngerti dan “nyerah”, abis saya bisa meyakinkan kalau nonton sendirian itu malah “lebih aman” daripada nonton berdua. (perbandingannya nggak banget deh! hihi!)

    sampai sekarang saya masih suka nonton sendirian. kadang-kadang kalau nonton bareng teman (terutama cewek), suka ada aja yang ribut nebak-nebak jalan ceritanya. bete kan, bu? trus kalau ketebak, ribut lagi ngomong, “tuh, bener kan gue bilang?” nyebelin banget!

    Marsmallow,
    Hehehe…iya, lha film nya kan nggak nyampe ke Aussie.
    Sebetulnya sekarang orang biasa melihat perempuan nonton dan makan sendirian, bahkan sering saya pulang lembur jam 11 malam, masih banyak cewek yang menunggu bis sepulang kerja. Mungkin karena di Jakarta rame terus, dan orang memang cenderung tak terlalu ngurusi orang lain.

    Tapi saya tetap lebih suka menonton dengan teman, yang sesuai tentunya, kalau temennya suka komentar, lha memang nyebeli …kita jadi nggak konsentrasi.

  45. klau membaca sekilas review bu enny, film yang ibu tonton agaknya ingin mengetengahkan persoalan kesetaraan gender yang selama ini memang masih menimbulkan kontroversi di kalangan pesantren. mungkin film ini bagus juga diputar di kalangan pesantren utk sosialisasi pengarusutamaan gender.

    Sawali Tuhusetya,
    Betul pak, masalah kesetaraan gender, serta modernisasi bukan berarti membuat hal yang merusak, serta kebebasan tidak berarti melawan kodrat.

  46. kalau ada duit lebih, saya mau nonton juga ah bu, Perempuan Berkalung Sorban.
    Hmm, pilem terakhir yang saya tonton itu Pintu Terlarang. Tapi, saya gak merekomendasikan nonton pilem ini sendirian, hiii, seramm. Selain itu butuh teman buat berbagi perasaan dan opini.

    Kadang-kadang saya juga suka nonton ke bioskop sendirian, lebih terasa feel-nya. Tips: jangan nonton pilem horor atau thriller sendirian.

    Ikankering,
    Saya tak suka film yang serem dan bikin deg2an, jadi Pintu terlarang jelas dicoret dari daftar

  47. Terkadang nonton film sendirian memang asyik juga ^o^

    Tapi kalau boleh milih, lebih senang ada temannya sih karena terkadang saya tipe yang senang berkomentar sepanjang film, ahahaha, kalau sendirian khan terpaksa mingkem karena ngga ada lawan bicaranya 😀

    Tapi kalau nonton dvd justru lebih senang sendirian daripada ditemani, terasa lebih bebas aja 🙂

    Met menikmati hari Senin ya, Bu 😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: