Bogor Heritage Trail: Pulo Geulis, Pulau di tengah sungai Ciliwung

Kepadatan penduduk di Pulo Geulis (foto diambil dari rumah kang Lili Hambali, pembuat barongsai di Bogor).

Pulo Geulis adalah nama sebuah pulau kecil di tengah sungai Ciliwung, di kota Bogor. Terletak di kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah.

Sebetulnya bukan pulau dalam arti seperti yang kita bayangkan, serta bukan delta di muara sungai. Pulo Geulis terbentuk karena aliran sungai Cilwung terbelah, kemudian menyatu kembali, membentuk daerah daratan yang mirip pulau dengan wilayah sekitar 3,5 ha (Wikipedia).

Kali Ciliwung yang membelah, membentuk kampung Pulo Geulis.

Menurut Wikipedia, penduduk di Pulo Geulis sangat padat, tak kurang dari 2500 jiwa, kepadatan nya 700 jiwa/ha. Penduduk di Pulo Geulis berasal dari suku Sunda dan Tionghoa, yang telah berasal dari ratusan tahun silam. Penduduk di sini merupakan campuran akulturasi budaya yang sangat solid, saling menghormati. Di tengah Pulo Geulis ini terdapat Vihara Mahabrahma, yang dulunya merupakan klenteng, dan merupakan klenteng tertua di Bogor. Cerita tentang Vihara Mahabrahma ini akan diceritakan dalam tulisan tersendiri.

Menurut cerita pak Bram dan kang Mardi, dulunya Pulo Geulis merupakan tempat rekreasi keluarga raja Pajajaran, jadi rakyat biasa tak diperkenankan datang ke Pulo ini.

Bagaimana cara mencapai Pulo Geulis ini?

Tangga menuju Pulo geulis.

Pulo Geulis dicapai dengan berjalan kaki, melalui jalan Roda (lewat gang Angbun Lebak Pasar), kemudian kami menuruni tangga berbatu dan jalan berkelak-kelok. Atau bisa lewat jalan Riau, di belakang terminal Barangsiang. Atau lewat gang Babakan Peundeuy.

Bergaya di jembatan.

Walau jalannya lebih berisiko bagi orang seusiaku, tapi pemandangan nya menarik jika kita melalui jalan Roda, kemudian berbelok di gang Angbun, menuruni tangga yang berkelok-kelok menurun, sampai ketemu jembatan kecil ber cat merah, hijau, biru dan kuning.

Sebetulnya jalan menurunya tidak curam-curam amat karena digunakan penduduk untuk kegiatan sehari-hari. Tangga menurun terdiri dari 4-5 tangga …kemudian jalan mendatar, sekitar 10 meter lagi baru menurun, sehingga kalau kita berjalan pelan-pelan sambil menikmati pemandangan, tak terasa capeknya.

Jembatan nya kecil, hanya cukup satu sepeda motor.

Jembatan ini jika sedang dilalui sepeda motor, kami harus menunggu di ujung jembatan agar bisa lewat. Melewati jembatan kecil bercat warna-warni ini, di sisi kiri jalan masuk, ada mural bertuliskan Pulo Geulis.

Foto di jembatan merah.

Setiap kali ada pemandangan menarik kami berfoto sambil istirahat, sehingga perjalanan yang sebetulnya cukup berat ini tak terasa, apalagi sambil asyik mendengarkan cerita kang Mardi.

Penduduk yang ada di pinggir jalan sangat ramah, menyapa kami dengan senyumnya. Ada beberapa rumah yang depan nya digunakan untuk warung…..hmmm bikin lapar, apalagi melihat tumpukan udang di piring.

Foto dulu saat memasuki kampung Pulo Geulis.

Di ujung jembatan, memasuki perkampungan Pulo Geulis, ada mural, kami segera foto bersama di depan murah ini. Di sebelahnya, rumah-rumah mulai dicat warna-warni dan ada beberapa mural lagi.

Jika kami jalan sendirian tanpa diiringi guide, pasti kami nyasar karena jalan nya seperti labirin. Syukurlah memasuki Pulo Geulis diantar kang Mardi, dan setelah dari Vihara Mahabrahma, kami diantar petugas Vihara sampai mencapai jembatan satunya yang menuju ke arah Babakan Peundeuy.

Masjid di Pulo Geulis.

Pulang dari Vihara Mahabrahma, kami melewati perkampungan dengan gang yang berkelak-kelok. Kami melewati masjid yang persis berada di tepi jalan. Saya permisi pada bapak-bapak yang sedang duduk-duduk di depan masjid dan mereka menjawab dengan ramah.

Jembatan menuju kearah Babakan Peundeuy.

Akhirnya kami sampai di jembatan satu nya, yang menghubungkan Pulo Geulis dengan jalan keluar ke Babakan Peundeuy. Jembatan yang ini diberi penghalang sehingga hanya pejalan kaki yang bisa lewat.

Foto bersama anak-anak SD yang pulang sekolah.

Kami bertemu anak-anak SD yang pulang sekolah, yang senang sekali saat di ajak foto bersama. Dari jembatan ini terlihat jalan Oto Iskandardinata dan Kebun Raya di kejauhan. Juga terlihat bangunan Plaza Bogor yang tinggi.

Setelah melalui jembatan ini jalan menaik tapi tanpa tangga. Bangunan rumah di kiri kanan jalan terlihat lebih rapih dan lebih bagus.

Tak lama kami sampai di ujung jalan yang merupakan gang Babakan Peundeuy.

Menyusuri gang-gang di Pulo Geulis

Pulo Geulis ini bisa dibuat menjadi kampung wisata yang melibatkan penduduk. Saya melihat telah dimulai dengan pembuatan mural…yang nantinya akan menjadi seperti kampung warna warni. Perlu dipikirkan bagaimana tema wisata yang melibatkan penduduk di sini, sehingga penduduk merasa ikut berperan serta membangun wilayahnya. Tema perajin barongsai bisa menjadi daya tarik, karena lokasinya dekat jembatan merah yang menuju Pulo Geulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s