Oleh: edratna | Januari 19, 2008

Mendapat kenalan baru, gara-gara anak

Suatu siang hari yang cerah anakku menilpon….”Ibu, berapa alamat emailnya ibu?” tanya anakku lewat telepon. “Kenapa nak?”, jawab saya. “Ada ibunya teman yang mau kenalan,” jawab anakku.

Saya agak bingung juga, kenapa mesti tanya alamat email, namun saya mesti bersabar menunggu anakku pulang dari Kampus. Setelah anakku pulang, barulah saya tahu ceritanya. Ternyata teman anakku satu angkatan, yang merupakan anak bungsu di keluarganya, setelah lulus mendapat akan meneruskan kuliah sambil bekerja di negaranya Paman Sam, dan akan berangkat awal bulan Februari 2008. Kakaknya telah menikah dan sekarang bekerja di luar pulau. Praktis di rumah tinggal ayah ibunya saja, karena anak-anak sudah keluar rumah semua. Sedang ibunya teman anakku tadi, baru saja menjalani masa pensiun… entah mungkin setelah mereka mengobrol berdua (anakku dan temannya), mereka mempunyai ide memperkenalkan para ibu ini, agar sang ibu mempunyai teman seumur di dunia maya.

Ibu teman anakku baru belajar menulis lewat email, dan saya merupakan orang pertama yang dikirimi email tadi, dan beliau juga akan mencoba membuat blog. Dengan menulis email, sang ibu tadi akan mudah berhubungan dengan putranya, dan dengan blog beliau akan menemukan kesibukan baru. Maklum beliau sebelumnya aktif sebagai seorang karyawati, yang bertugas di kantor Pemerintah Daerah.

Sejak itu kami berkirim email, dan akhirnya menilpon untuk membuat janji ketemu di suatu tempat hari Minggu besok, sekaligus saat itu ada acara ketemu teman-teman kedua anakku. Disini saya menyadari, bahwa semakin dewasa anak kita, mereka berganti menjadi orang yang “seolah-olah lebih tua” . Mereka juga mengkawatirkan ayah ibunya jika ditinggal pergi jauh. Jika dulunya orangtua yang kawatir akan anaknya, setelah mereka besar, merekalah yang kawatir jika orangtua hanya sendirian berdua di rumah.

Kondisi ini membuat hati saya nyaman, ternyata anak-anak memang anak yang memahami situasi dan saya menyadari bahwa umur saya tidak muda lagi, dan sekarang ganti mereka lah (anak-anak) yang meneruskan kehidupannya, yang akan membuat dunia ini mudah-mudahan menjadi lebih baik. Para orang tua bisa mundur dengan tenang, jika anaknya telah dewasa dan mandiri, dan hanya berfungsi sebagai penasehat jika diminta.

Iklan

Responses

  1. anak anak ibu, dimanapun pasti menghkawatirkan orang tuanya, seperti saya mesti ga tega hrus meninggalkan ibu dirumah sendirian karena toh anak2 juga tak seharusnya dicekal kakinya untuk terus meraih mimpinya, as long as kita tahu bahwa meski sendiri ibu pasti akan baik2

    doh jd kangen ibu

  2. Ibu teman anakku baru belajar menulis lewat email, dan saya merupakan orang pertama yang dikirimi email tadi, dan beliau juga akan mencoba membuat blog. Dengan menulis email, sang ibu tadi akan mudah berhubungan dengan putranya, dan dengan blog beliau akan menemukan kesibukan baru. Maklum beliau sebelumnya aktif bertugas di salah satu Departemen.

    dari blog, memudahkan mendapat banyak relasi.

    dari blog juga, ibu jadi memanjangkan tali silaturahim dengan saling berkunjung (online maupun offline)

    jadi ingat hadis Nabi SAW, silaturahim membuat panjang umur dan sehat.

    jadi dari blog yang bermanfaat, bisa membuat panjang umur dan sehat πŸ™‚

    nice, saya tunggu kabarnya keaktifan kenalan baru ibu dalam hal sharing lewat internet (seperti blogging ini maupun sejenisnya). keep up the good work! tq

  3. Aprikot,
    Biasanya orangtua akan rela ditinggal anaknya demi karirnya. Yang saya surprise, teman anakku tadi cowok, dan dia begitu sayang sama ibunya, ingin ibunya punya kenalan, dan belajar menulis di blog dan bisa saling berkirim email dengan teman-teman seumurnya.

    Mungkin juga gara-gara iklan anakku, setelah saya menulis di blog, saya punya banyak teman (padahal rata-rata teman anakku atau seniornya)….dan terlihat bahagia…hehehe

    Arie,
    Saya tak menyangka ternyata fungsi blog bisa seluas ini…..nanti saya cerita setelah ketemu.

  4. cara ibu yg satu ini menceritakannya bikin daku terharu…hiks2 jd kangen mama 😦

  5. Poppy,
    Ntar kalau Poppy udah lulus, perasaanmu juga kayak temannya Ari itu…..
    Btw blogmu ga bisa dikomentari orang selain yang juga dari blogspot. Minta tolong Bagus dong…..

  6. ibu saya nangis loh pas baca tulisan di blog saya …wakakaka … bikin blog malah bikin orang tua sedih πŸ˜€ …… kata ibu saya … kok sepertinya susah hidup di jepang …padahal saya suka berlebihan kalo di blog πŸ˜€

  7. Sandy,
    Nangis bahagia, terharu, sedih atau kangen?
    Karena menangis tuh ada bermacam-macam…kalau mama nya Sandy pasti nangis terharu dan bangga…walaupun pastinya kangen……

  8. Banyak manfaatnya ya bu…. makin semangat nih saya… πŸ™‚

    Eh, soal muncang sama gula, memang beneran kok bu. Saya gak maen-maen. Yang lebih bagus sebenarnya jangan muncang, tapi pake kacang mede, lebih gurih.

  9. Ram-Ram Muhammad,
    Memang benar, dengan ngeblog asalkan dilandasi tujuan baik, banyak sekali manfaatnya. Saya banyak sekali mendapat teman, bahkan malah ketemu lagi dengan teman lama, ketemu putrinya teman dsb nya.

    Kapan-kapan saya mau nyoba , bikin nasi goreng, dengan menambah bumbu muncang…syukur kalau ada kacang mede.

  10. Selamat ketemuan Bu, silaturahmi katanya bisa memperpanjang umur dan menambah rejeki.

    Hadi arr,
    Terimakasih…..

  11. teknologi memang tidak mengenal usia, biarpun telat melek teknologi tetapi setiap orang tetaplah harus mengikutinya, dan lambat laun kesenjangan teknologi semakin terkikis. para ibu akan semakin sering menghubungi anak2nya lewat email bahkan dapat chating via webcam dengan cucu-cucunya πŸ˜€

    Totok Sugianto

    Benar…saya belajar email dari anak buah, demikian juga saat musim friendster dan YM, karena saat itu anak pertama di Brisbane dan anak kedua di Bandung. Setelah saya MPP, anakku “agak memaksa” ibunya agar belajar ngeblog…”Biar ibu nggak kesepian,” katanya.
    Jadi, kalau dulu ibu atau ayah yang mengajari anak-anaknya…sekarang gantian anak yang mengajari ortunya. Makanya saya hanya bisa menulis dan tampilan WP masih sederhana…kalau mau merubah menunggu si bungsu punya waktu (padahal dia sekarang sibuk banget kayak kitiran)

  12. nangis sedih … eh saya ndak punya mama .. saya cuman punya ibu

    Sandy

    Ahh….Mama, mommy, emak, simbok,umi, ibu, bunda…kan sama…atau Sandy mau dapat mama baru di Jepang? …maksudnya mama mertua, karena dapat cewek Jepang

  13. Iya begitulah….. kejadian seperti itu mungkin akan berulang di setiap generasi, dan mudah2an tiap generasi akan menjadi lebih baik (dalam multidimensi) dari generasi sebelumnya.

    Yari NK
    Mudah-mudahan setiap generasi baru lebih baik dibanding generasi sebelumnya…inilah yang kita harpkan.

  14. Cuma bingung di awal, kenapa ‘nomor email?’ bukan ‘alamat email?’…hehe.

    Donny Reza,
    Thanks koreksinya…udah diganti….yang benar alamat email, bukan nomor email (saya lagi ngantuk kali ya…?)

  15. itulah namanya anak-anak yang berbakti pada orang tua… πŸ™‚

    Gie,
    Hmm ya…..orangtua akan bangga jika punya anak seperti itu….

  16. Terima kasih atas saran dan ilmunya,bu. Saya jadi cukup terang memahami hidup. πŸ™‚ Saya juga semakin memahami beberapa kelemahan saya, kelemahan yang selama ini sebenarnya disadari tapi diabaikan.
    Oya bu, rekaman saya ternyata ada manfaatnya. mamanya Evan jadi ikut dengerin kuliah (brapa SKS ya?) dari ibu.. πŸ˜€

    Bapake Evan
    Maaf jika jawab kemarin belum memuaskan ya…minimal kita bisa diskusi dengan teman-teman yang lain…..

  17. lebih bingung kalau,..Ada Bapaknya temen mau kenalan..” he he

    Mas Iman,
    Kayaknya kalau udah seumurku nggak masalah deh…..kalau masih muda mungkin bermasalah….

  18. ah.. baca tulisan ini saya jadi ingat ibu saya……. mau telepon mama ah…..

    Mer,
    Pasti mama akan senang sekali ditilpon oleh putrinya.

  19. […] santai, berada di bekas rumah peninggalan Belanda. Dan sekaligus, saya mengundang teman baru, papa mamanya Ju, yang baru saja kenalan lewat email. Acara lumayan rame, masing-masing bisa pesan sesuai […]

  20. salam kenal bu..
    baru tau ada juga ibu2 yg suka bloging πŸ™‚

    baca tulisan ibu jadi mikir tentang ibuku di malang,kasian juga ya ntar bakal aku tinggal ke jepang..gmana ya perasaan beliau pas ku
    tinggal nanti..
    apa mesti disuruh bkn email aja ya?biar mudah contactnya..
    atau..

  21. Yan9n,
    Ibu diajari aja, seperti ibunya Ju….pasti ibu akan senang.
    Saya belajar friendster saat anakku kuliah diluar kota (Bandung) dan luar negeri ( Brisbane… kemudian ikutan milis …jadi saya bisa mengikuti kegiatan anakku, menyarankan ikutan piknik dsb nya). setelah MPP (retired), anakku menyarankan menulis blog…ternyata saya mendapat kerjaan lagi…dan ternyata blog mengasyikkan juga, ketemu banyak teman.

    Salam kenal juga.

  22. aq yang diperantauan jadi kangen sama ortuku yang di kampuang sono. hanya setahun sekali kami dapat menengok mereka.

    Qutilang,
    Ada komunikasi lain kan? Bisa lewat sms, telepon….atau bahkan email….
    Seperti mamanya Ju, beliau mulai menulis email, agar saat putra putrinya jauh dari rumah tetap bisa berhubungan….

  23. Dari sebuah comic strip:
    Ada seorang anak yg protes berat kpd ibunya.
    “Ibu, kenapa ibu hanya memberiku sebuah username tapi tanpa password?!”

    :mrgreen:

    Guntar,
    Wahh…ini joke nya orang IT…..
    Kan memang password tak boleh diberikan kepada siapa saja…bahkan pada suami, anak, anak buah…karena password jika disalahgunakan sangat berbahaya…apalagi jika pemegang password mempunyai kewenangan mengeluarkan uang atau transaksi dalam jumlah yang sangat besar.

  24. mudah2an Ibu saya bisa belajar dari Bu Enny tentang Internet ya πŸ™‚

    Julian,
    Dengan senang hati…..ehh ibu diajari juga agar bisa telepon melalui internet (kaya Ari dan Lis)….supaya beliau kalau kangen, tak sekedar menulis email, tapi bisa mengobrol.

  25. Wah..kalau kita ibu-ibu lalu ada ibu-ibu lain mau kenalan…itu bukan berita, mungkin mau arisan ngkali !

    Yang berat kalau saya nih bapak-bapak tapi ada ibu-ibu yang mo kenalan, he..he..emangnya gua cowok apaan ? Bcanda ding..

    BTW, Minggu kemarin di Cafe Oh La La saya juga sempat ngobrol dengan ibunya Julian dan juga bapaknya (di rumah Julian dipanggil “Dimas”).

    Perlu ada koreksi, Julian bukan “bekerja” di US, tapi “belajar sambil bekerja” karena berangkatnya berkat koneksi MUM (www.mum.edu)..

    Tri Djoko,
    Saya belum sempat mengobrol dengan Julian, hanya dengan papa mamanya, papanya mengajar di perhotelan, mamanya baru saja pensiun dari Pemda DKI. Memang sebetulnya “agak mikir”, kok ke Iowa? Ternyata seperti Lis ya…belajar sambil bekerja. Tak masalah, mungkin yang lain bisa mengikuti jejaknya….Bisa seru ya…rame-rame ke Iowa….OK, udah saya koreksi, thanks.

  26. hubungan anak dan ibu memang sangat spesial,,kebetulan saya dan ibu saya hubungannya deket sekale dan sampai2 temen2 saya pun kalo kerumah kalo ndak ada saya ya ‘gaul’ nya ma ibu saya,,oh ibukuhh..

    Ika,
    Ada pesan orangtua yang mnyatakan, jika ingin punya isteri, salah satu kriterianya, adalah hubungan dengan mama nya dekat. Bagaimana akan menjadi seorang isteri dan ibu yang baik, jika hubungan dengan ibu tidak baik…..(ini pesan ortu kepada temanku)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: