Oleh: edratna | Maret 5, 2010

Wakuncar

Apa istilah wakuncar ini masih dikenal anak muda sekarang ya? Wakuncar adalah singkatan “wajib kunjung pacar”, merupakan kewajiban pacar untuk mengunjungi kekasihnya, biasanya dilakukan pada saat malam minggu. Walau kenyataannya, mengunjungi pacar tak harus malam libur, karena ada juga yang berpacaran jarak jauh, sehingga tak setiap malam minggu bisa mengunjungi pacar atau kekasihnya.  Paling-paling hanya berharap mendapat surat, untuk mengurangi kerinduan. Ya, saat itu pak pos masih ditunggu-tunggu kedatangannya, karena internet atau email belum di kenal. Bahkan menulis tugas akhir masih menggunakan mesin ketik.

Dan bagaimana situasi wakuncar di asrama putri? Saat itu, saya tinggal di asrama putri  bertingkat dua yang terdiri dari 13 kamar. Ruang tamu cukup luas, dengan beberapa kursi yang disusun melingkar untuk setiap meja, dan ruang tamu tersebut dipadati oleh 8 pasang meja kursi. Ada juga kursi yang berjejer di dekat pintu masuk. Pada hari-hari biasa kursi ini kosong, karena tamu nya tak banyak, paling-paling hanya yang mampir untuk sekedar mengembalikan buku, atau mengantar temannya. Namun pada malam libur, terkadang kursinya tak muat, maklum jika telah ada pasangan di salah satu kursi yang ada mejanya (8 meja), maka yang lain sudah merasa tak nyaman jika ikut bergabung di kursi pada meja yang sama. Dan bagi kantong mahasiswa, untuk setiap kali mengajak keluar, untuk makan dan sekedar menonton, bukan hal yang mudah karena masih tergantung dari kiriman orangtua di kampung.

Kebetulan asrama kami letaknya berada di komplek universitas, untuk mencapainya bisa melalui  jalan di depan  fakultas  Perikanan, disamping kiri kanannya masih area terbuka (lapangan olahraga dan tanah kosong dengan banyak pohon). Pemandangan di belakang asrama sungguh indah, kalau kita duduk-duduk di bawah pohon cemara, kita bisa melihat mahasiwa/i dari Fakultas Perikanan berlalu lalang, karena lokasi asrama yang tanahnya lebih tinggi. Kalau iseng, di kejauhan bisa melihat ibu-ibu dari kampung sebelah sedang mandi di kamar mandi umum, walaupun masih menggunakan kain basahan. Kamar mandi umum ini sering digunakan oleh para penghuni asrama, jika terjadi krisis air di asrama, dan bisa dibayangkan kehebohan saat mandi sama-sama, karena tak terbiasa mandi pakai kain basahan.

Penghuni asrama yang cukup banyak, menuntut di buat peraturan, agar masing-masing penghuni merasa nyaman. Peraturan ini ada yang tertulis dan ada yang tak tertulis, namun harus ditepati, karena hukumannya cukup berat. Di asrama ada kotak pos yang bisa diisi keluhan penghuni, jika menemukan tindakan penghuni lain yang melanggar tata tertib. Suatu ketika, karena tanggal tua,  saat wakuncar kiriman dari kampung belum datang, seorang teman hanya duduk-duduk mengobrol dengan pacarnya dilapangan, karena ruang tamu telah penuh. Sayangnya  saat itu waktu malam, dan di samping lapangan tersebut ada jalan,  yang merupakan jalur lalu lintas penghuni untuk pergi makan di luar, menonton, atau bahkan mahasiswi yang pulang dari lab. Jalur ini lebih disukai karena di dalam kampus, sehingga lebih aman, dibanding jika mellalui jalan di depan asrama yang gelap  dan sepi, serta banyak pohon besar di kiri kanannya. Akibatnya teman yang ketahuan tadi dihukum, karena dianggap melanggar peraturan tak tertulis. Apa hukumannya? Hukumannya adalah memasak, tanpa boleh dibantu penghuni lain, untuk seluruh penghuni asrama yang berjumlah sekitar 50 orang. Ada juga teman yang pintar, dia memilih hari Minggu untuk pelaksanaan hukuman karena pada saat itu banyak penghuni pulang ke rumah (yang rumahnya di Jakarta atau Bandung), dan tahukah apa yang dimasaknya? Oseng-oseng dan telur asin….yang tentu saja tak perlu usaha  terlalu keras.

Ruang tamu yang dipakai bersama juga membuat kreatifitas bagi para tamunya. Agar tak malu jika menunggu sendiri, atau jika ingin lebih privacy, tamu ini membawa koran…untuk menutupi wajah jika ingin tak diganggu. Jadi sering ditemukan sang tamu sudah ketiduran dengan koran menutupi wajahnya, gara-gara si pacar lama turunnya ke ruang tamu. Masalah lain adalah, ruang tamu hanya boleh menerima tamu dari jam 9 pagi s/d jam 9 malam, kecuali akhir pekan sampai jam 11 malam. Jadi, kalau pulang malam, penghuni lewat pintu belakang asrama yang dibaliknya ada dipan kecil tempat tidur pak K, penjaga asrama. Susahnya, untuk masuk melalui pintu belakang ini, harus melalui jalan kecil yang kiri kanannya dipenuhi tanaman rimbun, sehingga menjadi tempat yang asyik untuk melakukan “good bye“. Pernah suatu ketika, seorang teman sudah pengin cepat-cepat masuk asrama, tapi  “good bye” nya lama sekali, teman  tadi sudah berdehem-dehem….maksudnya memebri tahu kalau ada orang mau lewat, tapi namanya lagi asyik, pura-pura tak dengar. Tapi mau nyatet juga nggak tega juga….

Pernahkan anda tinggal di asrama? Mungkin om NH mengenal asrama ini dengan baik, atau bahkan termasuk salah satu yang punya acara wajib setiap malam libur.

Iklan

Responses

  1. hehehe lagi nostalgia jaman dulu ya…. 🙂
    saya gak pernah sih tinggal di asrama jadi gak bisa ikutan sharing cerita… 😀

    Iya…saya terpaksa di asrama, kalau kost yang plus makan mahal….apalagi jika sudah tingkat Sarjana Muda ke atas, yang kebanyakan hidup dilapangan untuk penelitian…jika di asrama dan tak punya uang, kamar di asrama bisa disewakan.

  2. saya pernah tinggal di asrama, dua kali lagi…hehehe…masing-masing punya cerita sendiri hehehe…

    memang seru ya Bu, tinggal di asrama dengan puluhan orang yang berlainan sifat dan kebiasaannya..saya sudah ada draft tulisan tentang pengalaman hidup di asrama, Bu.. 🙂
    kapan-kapan saya posting deh…

    Cerita suka duka di asrama tak pernah habis, apalagi interaksi antar manusia nya, jika di kupas jadi novel tersendiri.
    Coba Nana….cerita ya…Nana punya bakat menulis, membacanya enak…siapa tahu nanti jadi novel

  3. waduh gak pernah ngerasain wakuncar bu. yang ada adalah waktu kunjungan suami he..he..

    Hehehe…jadi singkatan perlu di ganti wakusu ya….

  4. Hahahaha, tulisan ini mbikin ingat dulu saya pernah memacari anak asrama…
    Wakuncarnya yang harusnya malam minggu jadi sabtu siang hingga sore soalnya kalau jam 7 udah nggak boleh keluar-keluar lagi 🙂

    Hahaha..pasti karena pacar DV masih SMA ya.
    Jika asrama mahasiswa/i…lebih lunak, lha para mahasiswa kan juga perlu kerja di lab…kadang pulangnya lewat tengah malam, dan kadang tidur d lab (jadi ingat masa-masa itu). Cuma memang dibatasi untuk kunjungan tamu…maksudnya agar ada kesempatan untuk belajar, bagi yang belum sampai tahap penelitian.

  5. asyik juga baca cerita ibu, maklum saya gak pernah mengalaminya. sulit membayangkan hidup harus berbagi dengan banyak orang, tapi pasti ada asiknya juga

    Awalnya serem juga….soalnya terbiasa hanya tiga bersaudara dan punya kamar sendiri-sendiri.
    Adanya peraturan yang dibuat, memudahkan orang saling berinteraksi tanpa melanggar batas etika..maklum dari berbagai daerah, membawa budaya dan kebiasaan masing-masing, yang terkadang satu sama lain sangat berbeda. Namun, justru kita jadi saling mengenal berbagai budaya yang dibawa teman-teman itu, juga berbagai keyakinan…

  6. Aku belum pernah tinggal di asrama, tapi kalo mengunjungi asrama2 putri cukup sering, hehehe.
    Salam dari negeri bunga

    Mengunjungi memang berbeda dengan berada didalamnya

  7. untung waktu jaman wakuncar di asrama dulu, yg aku kuncari sudah dianggap “senior” di asrama, jadi bisa lebih longgar, tdk ketat ketat amat 🙂

    Asrama mahasiswa/i biasanya tidak ketat sekali, karena peraturan di buat oleh penghuni untuk memudahkan aktivitas.
    Dan walau tak bisa bertemu tetap ada ruang lain….untuk keadaan darurat. Bahkan tamu pria boleh masuk asrama pada batas tertentu, jika menengok orang sakit..syaratnya, penghuni asrama yang sakit pindah di kamar perawatan…yang terletak di lantai satu.

  8. Saya sih nggak pernah tinggal di asrama, tapi dulu banyak punya temen tinggal di asrama unpad di sekeloa, entah sekarang itu asrama masih ada apa nggak ya?? Dulu sih… setahu saya, kamarnya cukup layak, suasananya juga cukup bebas walaupun tetap ada aturan, namun ya itu… air terkadang susah dan WC walaupun ada beberapa tapi sering mampet. Sarana telpon umum juga ada namun seringnya rusak juga! Ya maklum deh, dulu belum ada hp. Tapi temen saya itu lebih senang kalo nginep di tempat kos saya, karena ada TV dan videonya, sama ada PC-nya yang terkadang buat ngerjain tugas tapi lebih banyak untuk main game… **halaah** huehehe…

    Saya dulu sering ke asrama UNPAD di jalan Juanda….kayaknya masih ada, tapi entah, apa masih difungsikan sebagai asrama putri.
    Dan juga pernah ada kunjungan antar asrama antara asrama UI-IPB dan ITB…malah pernah kami rame2 tidur di asrama ITB…yang putri tidur di asrama putri Gelap Nyawang…dan yang cowok tidur di asrama putra di Vila Merah, Barak, juga asrama A-C. Ke UI pun saya masuk-masuk ke asrama putra di Rawamangun (lupa namanya), asrama PGT (di Pegangsaan), juga asrama putri UI “Wisma Rini” di Jatinegara. Sungguh menyenangkan mengenal teman-teman dari perguruan tinggi lain… dan ada juga yang akhirnya berjodoh lho….hehehe….herannya kok nggak kepikiran dengan UNPAD ya…?

  9. nggak pernah tinggal di asrama atau ngekost bu, masih di rumah ortu aja waktu kuliah
    dengar pengalaman hidup asrama dari ayahku

    Di rumah lebih nyaman…di asrama lebih memahami budaya yang dibawa teman-teman antar etnis yang kadang masih melekat erat di pembawaan masing-masing

  10. Wah, saya jadi ikutan flash back ke masa kuliah. Hm… asyik juga mengenang masa muda.

    Hmmm

  11. ceritanya seru, sayangnya nggak diceritakan detil saat bunda edratna menyambut pacar wkt itu hehehe…

    salam nostalgia

    Wahh kalau yang itu terlalu pribadi dan tak menarik buat orang lain

  12. jadi teringat masa2 tinggal di asrama sewaktu kuliah. Suasananya hampir mirip dengan cerita ibu. Ruang tamu yang penuh pada waktu malam minggu, adanya peraturan2 yang sangat ketat, tapi saya senang tinggal di sana, karena temannya banyak, walaupun kadang2 sering timbul perselisihan juga

    Iya..perselisihan kadang memang terjadi…namun biasanya tak bertahan lama, karena akan disatukan kembali oleh teman yang lain.
    Dan ternyata…kehidupan di asrama ini memudahkan memahami orang lain saat mulai bekerja di perusahaan yang orangnya juga berasal dari seantero nusantara

  13. Kalau saya nyaris tidak punya waktu khusus seperti itu dulu, soalnya kita sekelas, jadi ketemu terus setiap hari, hehehe… 😀

    Btw, good bye itu maksudnya apa Bu? (sokpilon.com) 😉

    Good bye?..hmm apa ya….saya yakin uda udah tahu banget maksudnya…hahaha…
    Dunia anak muda kan suka menggebu-gebu.

  14. wah saya malah tidak mengalaminya Bu

    Hehehe…..mungkin kayak Fety ya….


  15. istilah wakuncar kayaknya sekarang udah gak di pake’ .. 🙂
    ..
    saya udah mikir lama Buk, tapi masih belom menemukan maksud dari good bye time..
    ..

    Udah…nggak usah dipikirin soal good bye time…kan Septa masiih kecil…hehehe. Itu uda Vizon udah tahu jelas maksudnya

  16. Saya dulu pengen banget sekolah yang ada asramanya, tapi malah masuk pesantren tapi di dalam kota alhasil yang ada sering pulang karna gak betah h3……

    Memang hidup bersama orang lain tidak mudah..dan aturannya pasti lebih ketat agar tak terjadi masalah, karena menyangkut orang banyak.
    Dan seenak-enaknya kost atau tinggal di asrama pasti lebih nyaman di rumah orangtua sendiri

  17. saya gak pernah tinggal diasrama , selalu tinggal dgn ortu, jadi gak ada yg bisa disharing 😀
    salam.

    Itu beruntung sekali…betapapun tinggal bersama orangtua memang paling nyaman

  18. wedew, jadi ingat zaman asrama dulu. waktu masih yunior, kami dulu ruang tamunya jg bareng2 spt itu bu. dulu sih, saya belum punya pacar. jadi yg berkunjung cuma kakak. nah, kadang kakak saya datengnya malem minggu jg. kadang nggak kebagian bangku. akhirnya kakak saya pulang cepat.

    Hehehe…jadi belum merasakan ya Kris.
    Tapi banyak juga lho antar pengunjung asrama itu akhirnya menjadi berteman…hehehe…lha karena jenuh yang ditunggu nggak keluar-keluar, mereka mengobrol dan akhirnya saling kenal

  19. Untuk Saya sekarang istilah itu bernagti menjadi “Wakuntri”… wajib kunjungi istri, hehehe.

    Kalo gak salah dulu ada lagu dangdut judulnya Wakuncar, tapi artinya diganti menjadi waktu kunjungi pacar ya Mbak…

    Ehh saya lupa-lupa ingat tentang lagu itu….
    Kayaknya memang artinya wajib kunjung pacar alias ngapel….dan alias-alias yang lain

  20. Bunda, saya tau istilah itu, tapi ga pernah ngelakuinnya. Soalnya saya jomblo bun. Btw asramanya di Bandung kan bun?? kalo boleh tau di daerah mana bun?? Hanya ingin tau.

    Soni…
    Saya sering ke asrama Ganesha lho….hehehe (ketahuan)…tapi saya bukan dari ITB…
    Dan jika ke asrama yang paling banyak cowoknya itu, diantar sepupuku yang juga kuliah di ITB, dari jendela kamar-kamar banyak kepala bermunculan..maklum ITB saat itu gersang cewek ya….hihihi..sekarang kayaknya banyak mahasiswi..dan keren-keren…artinya sekarang ini banyak mahasiswi cantik ditemui di kampus ITB.

  21. oh ibu penghuni asrama putri itu toh…..

    Maksudnya asrama putri yang mana pak?

  22. masih berlaku kho buat anak2 muda jaman sekarang.. saya masih wakuncar kho hehe…

    Hmm…begitu ya

  23. gak enak banget tuh kalo pacaran diruang tamu asrama..
    makanya saya juga paling males kalo suruh ngapel ke cewek yang tinggal diasrama hehehehehehhe

    Jadi….tak pernah punya cewek yang tinggal di asrama?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: