Oleh: edratna | Februari 18, 2012

Solitaire dan sendiri

Membaca blognya teman disini dan disini, yang mengajak untuk berbagi cerita bagaimana kita menghabiskan waktu sendirian, saya mencoba untuk ikut meramaikan. Saya tak pernah ikutan berbagai kontes yang diadakan oleh teman-teman blogger, maklum masih merasa, menulis di blog sendiripun susah sekali untuk disiplin, walau target saya tak tinggi-tinggi, minimal satu kali dalam satu minggu. Memang kadang jika lagi jenuh (aneh ya, jenuh jadi rajin menulis?), malahan “agak aktif”, bisa seminggu dua kali menulis di blog. Saya tak pernah bermain kartu atau game. Mengapa? Saya sendiri tak tahu, hanya dulunya ayah saya kawatir, karena bermain kartu saat itu konotasi nya bisa digunakan sebagai judi. Pendapat yang aneh, dan hal ini sempat membuatku kesulitan saat saya belajar Statistik, karena contoh yang diberikan oleh dosen, yang berasal dari Sumatra Utara, selalu mengambil contoh kartu remi. Lha saya sendiri tak pernah bermain remi, pengalaman ini membuatku tak membuat banyak batasan pada anak-anak, yang penting adalah memahami risiko nya, dan menjaga agar anak-anak tak berjalan di luar jalur.

Kembali ke istilah solitaire, istilah ini saya kenal untuk menggambarkan orang yang suka mengerjakan sesuatu sendirian. Bahkan kadang dijadikan ejekan ringan untuk menggambarkan seseorang….”Ahh si A mana mau bersama kita, kan dia tipe orang yang solitaire.” Saya sendiri, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, ayah ibu cenderung protektif memperlakukan kami bertiga, sehingga nyaris selalu ada teman, dan jarang dibiarkan sendirian. Bahkan ibu selalu menemani (tentu saja sambil mengerjakan pekerjaan ibu, menyulam, atau membuat rencana bahan ajar untuk esok hari) saya dan adik-adik belajar. Kalau belajar pagi hari, sekitar jam 3-4 pagi, ibu membuatkan teh panas, kadang ditemani pisang goreng. Hal seperti ini membuat saya merasa sangat kesepian  saat awal kuliah di Bogor. Waktu kuliah yang padat, sering pulang menjelang Magrib, melewati jalan Pajajaran (dulu bernama Otto Iskandardinata) yang terlindung oleh pepohonan besar di kanan kiri jalan, apalagi pas hujan rintik-rintik……wahh lengkap sudah rasa miris dan sepi. Kebetulan sebulan pertama saya kost di daerah Sempur, daerah lembah, yang tak dilewati oleh bemo. Akhirnya bulan kedua saya pindah kost ke rumah dosen Faperta, yang persis terletak di sebelah kampus, sehingga memungkinkan saya untuk segera pulang ke tempat kost, bahkan bisa makan siang dan kembali lagi ke kampus untuk praktikum. 

Di tempat kuliah ini, saya dipaksa untuk berani sendirian, waktu luang digunakan untuk berburu buku di perpustakaan, maklum saat itu belum ada yang namanya fotokopi dan waktu pinjam dibatasi. Waktu senggang saya pergunakan untuk membuat resume dari buku yang dipinjam dari perpustakaan, agar saya bisa segera pinjam buku lainnya. Semester pertama saya lalui dengan susah payah, rasanya sedih sekali saat harus bangun pagi, belajar sendirian, tanpa ada ibu yang menemani. Apalagi saya sekamar dengan teman yang kuliah di tempat lain, yang terlihat tak serepot saya, mungkin karena dia lebih pandai, atau lebih bisa mengatur waktu. Kondisi ini memaksa saya untuk berani melakukan apa-apa sendiri, sesekali bisa bersama teman jalan-jalan ke Pasar Bogor untuk membeli sesuatu. Kebetulan lingkungan tempat kostku, ada perkumpulan Muda-Mudi Rumah Sakit II, jadi sesekali ada pertemuan atau ada acara yang diselenggarakan, yang membuat saya mempunyai banyak teman.

Seiring dengan lamanya kuliah, memaksa saya harus berani sendirian, apalagi saat-saat melakukan penelitian. Pada saat tugas akhir ini, saya masih bersyukur bisa naik angkot pulang pergi ke Bogor, berangkat jam 5 pagi dan pulang menjelang Magrib. Ada teman yang terpaksa harus menginap di Kebun Percobaan Pasir Sarongge (Puncak,) yang saat itu pondokannya berada di tengah Kebun Percobaan, belum ada listriknya, bahkan mandipun di sungai. Selama setahun saya sendirian di kebun, mengamati, membuat data perkembangan lebar daun, lebar batang tanaman, serta cahaya yang bisa diterima pada tanaman tumpang sari. Tak jarang saat harus mengukur saya menemukan ular hitam besar sedang melingkar di dekat tanaman…hiiiii…..saya benar-benar nyaris mati berdiri, sampai lama baru bisa bergerak. Syukurlah, setiap kali harus menghitung, saya ditemani oleh petugas, sehingga dia lebih mengenal medan dan tahu apa yang dilakukan. Jangan ditanya soal ulat bulu, saya menjadi terbiasa tangan dan kaki dipenuhi ulat bulu, namun pengukuran tetap harus berjalan. Dari mulai geli, jijik, tapi karena terpaksa, akhirnya saya bisa melakukannya, karena mau tak mau saya harus memperoleh data yang nantinya akan diolah, agar  mendapatkan sebuah hipotesa.

Selanjutnya perjalanan hidup keseharian saya memaksa untuk berani melakukan apa-apa sendiri, karena harus bisa naik bis saat pulang kampung, naik kereta api dari Jawa Timur ke Bandung, yang saat itu entah kenapa lampu dalam gerbong sering mati saat kereta api berjalan menanjak menuju ke arah kota Bandung. Di kereta api ini saya pernah menemui lelaki iseng, saat lampu mati saya merasa ada barang bergerak ke arah paha saya. Saat itu saya masih cupu, tak berani mengatakan apa-apa, padahal di depan tempat duduk saya, ada sepasang suami isteri yang sudah sepuh, yang seharusnya saya bisa minta tolong untuk berpindah tempat duduk. Jadi sejak dari kota Banjar, sampai mendekati fajar, saya sibuk memindahkan tas tangan untuk menutupi tangan lelaki yang kurang ajar itu. Sampai saat menjelang fajar dan hari mulai terang, lelaki tadi pergi ke WC, saya  kemudian cerita sama bapak ibu yang duduk di depan saya. “Oo…Allah nak, mestinya tadi bilang langsung, laki-laki seperti itu harus ditegur, biar dia malu.”  Entah kenapa, mungkin lelaki tadi tahu kalau saya sudah mengatakan pada orang lain, sampai kereta api berhenti di stasiun Bandung, dia tak muncul lagi. Sejak itu saya makin berani, karena sepupu saya yang laki-laki mengatakan, kalau di perjalanan ada orang yang kurang ajar, teriak saja yang kencang, pasti akan dibantu orang yang lain. Syukurlah saya tak menemui masalah saat naik bis malam, karena saya selalu pesan tempat persis di belakang sopir, mungkin ini yang menolong saya, bukankah secara tak langsung pak sopir akan ikut mengawasi?

Setelah mendapat pekerjaan dan harus tinggal di Jakarta, kemampuan saya untuk melakukan apa-apa sendirian makin bertambah. Saya dipesan oleh bapak pemilik tempat kost, agar hati-hati jika berjalan malam hari. “Berjalanlah di tempat yang terang,  berjalan yang cepat mengarah langsung ke tujuan.” Pesan bapak ini sampai sekarang saya ikuti, maklum saya tak berani nyetir mobil dan suami lebih banyak bekerja di luar kota. Kondisi ini membuat saya selalu memperhatikan keadaan sekeliling, dan selalu waspada jika berada di tempat umum. Jika mesti menunggu taksi di pinggir jalan saat malam hari, saya selalu berusaha di bawah lampu,  diusahakan berada di dekat warung atau pos satpam, memang akibatnya mendapatkan taksi agak mendadak, karena saya harus pasti bahwa taksi yang akan saya tumpangi adalah taksi BB. Cukupkah itu? Tidak…sebagai orang yang pernah hidup di kota Bogor yang nyaris selalu hujan, saya selalu siap payung kecil, saat naik taksi sendirian, maka payung ini siap di pangkuan, sewaktu-waktu jika diperlukan dapat digunakan sebagai senjata. Dan saya menjadi cerewet memperhatikan keadaan di dalam taksi saat baru masuk, melihat cara membuka pintu taksi dalam kondisi darurat….. dan seringnya pura-pura menilpon..”Halo, saya sudah di taksi nomor bla..bla..bla...” Sopir taksi sering tersenyum, dan bilang, “ ibu kawatir ya?” Hahaha…

Jika Nique sudah sering nonton sendirian, saya baru dua atau tiga kali nonton sendirian, itupun karena sudah pengin banget nonton film tersebut,  karena saat itu  si sulung yang penggila film sedang di luar negeri, dia ingin tahu jalan cerita film tersebut. Hmm…si sulung ini benar-benar maniak film, kalau melihat film bukan sekedar melihat film seperti saya, namun dia juga menganalisa efek pencahayaan, skenario, karakter yang dimainkan aktor/aktris, dan lain-lain. Dulunya saya pusing, nonton kok repot amat sih, namun akhirnya saya menjadi belajar, karena saya harus menjadi sparing partner nya si sulung untuk diskusi masalah film. Apakah saya jadi pencinta film? Jawabannya tidak, walau kalau nonton di bioskop saya tetap senang, namun bukan hanya filmnya, saya suka memperhatikan perilaku para penonton nya yang suka aneh-aneh. Saya sendiri lebih suka membaca buku, jadi kalau lagi tak punya uang, saya harus menghindari toko buku karena saya tetap tak tahan untuk tak beli buku, namun saya tahan untuk tak punya pakaian atau tas baru walau banyak toko menawarkan diskon.

Jika sudah membeli buku sendirian, saya mencari sebuah cafe, duduk mojok sendirian, menikmati secangkir coklat panas dan sepotong roti croissant ….kemudian membuka buku. Tak terasa waktu telah berjalan dua jam, saya melihat sekeliling, rupanya saya makin sering menemui ibu-ibu seusia saya duduk sendirian di cafe ditemani sebuah buku. Mungkin mereka memang sendirian, atau sedang menunggu suami dan anaknya jalan-jalan ….. jika sudah seperti ini, rasanya hidup di Jakarta cukup menyenangkan. Jika cuaca kurang mendukung, saya suka di rumah seharian, membaca buku sambil memeluk guling….maka buku tersebut kadang tak selesai di baca karena saya sudah mimpi indah mengikuti tokoh utama buku yang saya baca.

Kedua anak saya, semuanya terbiasa melakukan apa-apa sendirian, walaupun mereka tetap suka bersosialisasi. Si bungsu sempat dijuluki “Alone Ranger” karena sering berjalan sendirian memasuki gerbang kampus gajah sambil menyandang ransel. Pernah disangka mahasiswi senior, karena begitu masuk ke comlab, dia membuka komputer, mencolokkan pada tempat listrik dan langsung sibuk dengan laptop nya, karena saat itu ada tugas yang belum selesai dikerjakannya. Bisa dibayangkan bagaimana pendapat seniornya, setelah tahu bahwa ternyata si bungsu masih yunior dan ada dibawahnya… Si sulung sejak masih SD berani kemana-mana, jadi saya dan suami melatih agar dia selalu bisa kembali ke rumah tanpa nyasar. Bayangkan, sebagai seorang ibu dari anak kelas 4 SD, suatu hari dia cerita tentang perjalanannya ke Kalideres. Walau kaget saya harus memasang wajah datar agar si sulung mau meneruskan ceritanya, rupanya dia naik bis dan gratis karena kenek bis tak tega meminta uang dari anak kecil. Kenek dan sopir bis juga berbaik hati mengajari cara kembali pulang ke arah blok M.  Syukurlah saat itu tak ada berita-berita tentang penculikan anak, tak terbayangkan jika terjadi saat ini. Saat ini,  jika mau melakukan kegiatan sendirian di Jakarta, pastikan tetap dalam kondisi siaga. Kegiatan sendirian di luar rumah, untuk anak kecil sungguh bahaya, karena rawan diculik…. saya sangat berharap, semoga Jakarta aman bagi para penghuninya. Kapankah?

Catatan:

Tulisan ini diikutkan pada perhelatan GIVEAWAY :  PRIBADI MANDIRI yang diselenggarakan oleh Imelda Coutrier dan Nicamperenique.

Iklan

Responses

  1. TERIMA KASIH bu … kami sangat tersanjung
    apalagi ini GA perdana yang ibu ikuti 🙂

    sosok ibu benar2 sosok mandiri yah 😀
    sukses di karir, mengurus keluarga – keduanya bisa seiring sejalan

    ah, klo yg di kereta itu bu, memang sebaiknya speak up saja, klo diam malah menjadi pelakunya. makanya saya suka gregetan klo ada perempuan yang setelah jadi korban baru ngomong, dengan alasan takut dibunuh. lha saya bilang, pahit mana, antara MATI dibunuh sama DIPERKOSA? tapi ya entahlah, naudzubillah semoga saya tak pernah berada di posisi itu …

    sekali lagi terima kasih ya bu, HAVE A GREAT WEEKEND!

  2. Wah bu EN sambil nostalgia awal perkuliahan di Baranang Siang nih. Ada saat2 kita harus melakukan pekerjaan sendirian termasuk mengambil keputusan penting ya ibu. Salam

  3. Saleum,
    ikut nyimak ceritanya dulu mbak 🙂
    salam kenal semoga sukses GA nya

  4. Terkadang melakukan sesuatu sendiri – sendiri malah lebih leluasa terkecuali kalau sedang mindahin lemari, dalam hal ini perlu lebih banyak tenaga manusia 🙂

  5. Banyak juga orang jahil ya,
    untung aja saya nggak ngalami dijaili orang saat sendirian di bis antar kota , padahal cukup sering juga

  6. Makin moderen kehidupan, semakin kita dituntut agar bisa mengerjakan apa-apa sendiri ya Bu. Habis gimana lagi, saudara2 kita juga punya kegiatan seabrek, ibu-bapak gak mungkin jg menemani terus menerus, apa lagi teman..Yah terpaksa sendirian kala pulang kampung…Pengalaman yg luar biasa bu 🙂

  7. wah seru, semua pada ikut nulis Solitare ya Bu. Saya juga pernah Bu ketemu lelaki kurang ajar begitu, tapi waktu dia begitu, saya pelototin dan saya pindah aja tangannya trus saya pindah ke depan dekat supir deh 😀

  8. Senang sekali….seperti biasa, banyak hal-hal positif dari tulisan Ibu… Niq…aku njagoin ini…. 🙂

  9. Tema sederhana dari panitia kontes menjadi “sesuatu” ketika dikembangkan oleh Bu Edratna.
    Apalagi ini kontes, dan pertama pula ibu mengikutinya.
    Itulah knapa, meski panjang, saya membacanya sampai titik yang penghabisan.
    Pantaslah jika jurinyapun merasa “tersanjung”, sebuah ungkapan yang kayaknya nggak bakal diberikan ke saya.
    (mudah2an Bu eM & Ni nggak baca komentar ini).

    Jika suatu ketika Ibu bersedia ikut kontes2an yang saya adakan, sayapun akan mengatakan yang sama, “Saya Tersanjung”.

    Terakhir, saya berdoa semoga ibu jenuh sehingga menjadi sering menulis.
    Mudah2an doa saya tidak salah, karena sebelum berdoa, saya baca lagi bagian tulisan ibu yang membuat kenapa doa saya demikian aneh itu.

    Terakhir sekali, mungkin ini termasuk komentar paling aneh yang pernah tertulis disini… 😀
    Salam!

    (Saya sempat nggak mengenali nama Ibu di FB karena beda dengan yg disini)

  10. saya termasuk orang yang gak terlalu bisa ngapa2in sendiri.
    dulu pas kuliah aja saya mendingan nunggu di mobil dulu sambil telp temen udah ada yang nyampe kelas belum. kalo udah ada yang nyampe kelas, baru saya turun. hahaha. abis rasanya gak enak kalo nunggu di kelas tapi gak ada temen yang saya kenal…. 😛

    tapi ya lama2 ya mau gak mau lebih banyak hal2 yang harus bisa dilakukan sendiri. walaupun tetep saya prefer gak sendirian sih…

  11. Sendiri itu enak mbak walaupun tidak semuanya enak dilakukan sendiri, toh kita memulai perjalanan hidup ini pun dilakukan sendiri dan kelak akan mengakhirinya pun sendiri.

  12. wah2, banyak soal solitaire, banyak juga pengalaman menghabiskan waktu sendiri, bisa jadi bahan referensi buat juga gak ya, hehe. 🙂

  13. kalo aku bisa dibilang dari kecil dididik mandiri,jadi lebih sering mengerjakan apapun sendiri bu..

  14. Melakukan berbagai hal sendirian, bukan berarti sepi ya, Bu… 😀
    Itu hanya preference kita saja. Hehe…
    Kalau nonton memang asyik bersama teman2, apalagi kalau ada yang traktir. Namun, saya beberapa kali nonton sendirian dan enjoy saja 🙂

  15. bu, akhirnya ikut kontes juga ya hehehe. ya, saya juga kayaknya baru sekali ikut kontes di blog.

    bu, pengalaman ibu banyak sekali. kalau belajar, saya sebenarnya suka juga kalau ada teman yang sama-sama belajar. dulu di asrama suka ada teman yang belajar sampai malam. kadang ada juga yang janjian bangun pagi untuk belajar bareng… kadang memang suka iri deh lihat teman yang sudah tidur, sementara kita harus bangun dan belajar. :p


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: